Dinginnya angin mulai menyapu kulit wajahku. Sebentar lagi
matahariku datang. Dia akan memberikan sinar hangat untuk hari ini, lusa,
bahkan untuk esok harinya lagi.
Aku mulai menghirup aroma desahan angin pagi. Angin sepertinya
sedang malu-malu, dia datang dengan sayup-sayup lembut. Menjelma menjadi sosok
yang tiba-tiba muncul dan tanpa suara. Ah, ternyata aku hanya merindukan matahari.
Lagi-lagi…
Embun yang
sedaritadi muncul di rerumputan. Dia mulai menyapaku penuh rindu. Ternyata dia
menawan. Dan aku baru menyadarinya. Dia terlihat bersahaja di balik warna yang
menjadi karakter alaminya. Dan aku suka.
Tak kusadari,
ternyata ranting pohon kering sedang memperhatikanku. Dia layu, lusuh, dan
sering terseret-seret oleh angin. Sebenarnya aku tak tega. Tapi inilah hukum
alam, tergantung bagaimana kita memaknainya. Untungnya, ranting sangat sabar. Dia
tak sama sekali marah atupun berontak, dia bisa saja mengadu kepada pohon untuk
melindunginya dari kejaran angin. Tapi ranting tidak seperti itu, dia berbeda.
Kicauan
beberapa burung menarikku untuk berputar arah ke belakang. Aku berdecak kagum. Inikah
sebagian dari ciptaan tuhan? Gunung yang bersandar di langit barat itu rupanya
sedang tertidur pulas. Dia sama sekali tak terusik dengan keadaan di
sekelilingnya. Mungkin dia capek. Karena sewaktu nenek seumuranku, dia pernah
muntah besar-besaran. Itu yang aku ingat dari dongeng nenek ketika aku kecil. Setiap
hari gunung selalu diselimuti awan putih nan dingin, di jajahi oleh
manusia-manusia yang kurang kerjaan dan kebutuhan makhluk hidup yang bergantung
padanya.
Sepertinya
sudah cukup aku berceloteh kesana-kemari. Aku ingin sedikit merebahkan tubuhku,
berharap banyak energi positif yang akan ku serap. Karena masih banyak yang
ingin kuceritakan tentang negeri ini. Negeri nan elok di perbatasan
khatulistiwa.
Calypso.