Entri Populer

Minggu, 14 September 2014

Untukmu, er -__-


          Jujur.. kini aku tak mengerti tentang rasa apa yang mulai bersarang untukmu. Jangan pernah berpikir, bahwa aku tak akan pernah melihat ke arahmu, justru sebaliknya. Sudah lama sekali, aku ingin membangkitkan sajak manis lagi, tetapi ketika baru ingin memulai, ingatan itu selalu muncul, dan aku tak kuasa untuk meredam semua.
          Aku rindu. Semua menjalar tanpa bisa aku tahan.
          Sajak manis, nama pena, fiksi mini, atau apapun itu. Aku bangga. Penamu kini dikenal dan dihargai banyak nama. Entah rasa apa yang selama enam tahun hampir bersamaku. Dia lebih kuat dan berusaha menahanku untuk sekedar berucap “iya” kepadamu. Rasa itu, rasa enam tahun lalu, rasa yang lebih manis dari teman masa kecilmu. Bahkan itu sangat sulit dihilangankan, meski aku pernah mencoba untuk mencari yang baru sekalipun.
          Sekali lagi maaf, jika aku tak bisa membalas semua.

Calypso.

Minggu, 27 Juli 2014

Anak Kecil dengan Obor


       Senandung salawat menggema di seluruh pelosok bumi. Hati ini tentram. Aku akan rindu saat-saat ini. Saat semua umat muslim akan merayakan hari kemenangan. Saling memaafkan menjadi tolak ukur akan hilaf dalam menahan emosi. Hati yang bersih semoga tetap tercipta tidak hanya untuk esok hari. Aku harap kami selalu begitu.
       Aku terpana saat melihat anak-anak kecil berkeliling dengan obor dari bambu. Mereka bersenandung di atas mobil yang atapnya terbuka. Api dalam obor itu menyala, kunang-kunang pun kalah. Senyum mereka, tawa mereka. Sungguh, tak akan ada yang bisa menggantikan. Di sudut lain, aku melihat mereka sedang asik menyalakan kembang api. Dan aku sangat menikmati setiap gerak-gerik dari mereka.
       Kini, kembang api seperti ilusi di langit malam. Dia tiba-tiba menjelma bagai bintang yang berwarna-warni. Melompat ke arah langit, lalu terjun bak bintang jatuh yang mengagumkan. Walaupun dia hanya sesaat. Tapi aku hanyut, saat menikmati setiap detik hamburan warna itu.
       Aku terdiam. Keheningan mulai menyapu di sekelilingku. Lagi-lagi aku selalu merasa sendiri. Tapi aku tak kuatir, ada angin. Dia akan setia menemaniku, sambil mengantarkan salawat-salawat yang berteriak dengan lembut.

Calypso.

Sabtu, 26 Juli 2014

(┐’⌣’┌)


Semua postingan yang saya tulis, hanya sekedar hobi untuk menyalurkan apa yang saya rasakan, dan apa yang sedang saya pikirkan. Karena saya baru saja ingin memulai, bagaimana menapaki menjadi sosok penulis yang bisa menyejukkan hati para pembaca. Walaupun awalnya tanpa beralaskan nama pena atau bekal apapun. Alhamdulilah semuanya terjadi secara otodidak, tanpa saya sadari. Dan semua itu hanya untuk ketenangan semata. Maaf bila postingan saya pernah menyinggung. Baik yang di sengaja maupun tidak.
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin. Barakallah..

Calypso.

Ini Penaku…

  Kita sama-sama 16. Kamu tau itu? bukan soal kapan kita lahir. Tapi tentang berapa banyak lembaran yang sudah penamu tulis untuk di nikmati orang lain. Aku masih yang dulu, sayang. Yang masih menikmati manisnya auroramu. Dan aku… Ah, sudahlah.
  Ini lembaranku yang ke 17. Angka yang manis untuk anak sekelas aku. Tapi penamu masih dikurangi satu dari penaku. Tak apa, aku tahu kamu lelah. Tapi kamu tetap sajak manis yang selalu aku rindukan, walau itu semua tak pantas. Kuperhatikan, sepertinya sajakmu berumur baru. Dia lebih lembut. Pasti berkat pena luar biasa, yang telah merubah mantra dalam tubuh penamu. Selamat!

Calypso.

Jumat, 25 Juli 2014

Levana Vesper (•̅_•̅)


             Matahari mulai tergelincir, senja akan datang. Gadis dengan rambut pirang itu terlihat diantara pohon kelapa yang memberi tarian sendiri untuk menyambut malam. Dia memang sengaja mampir ke sini, matanya sembab. Hanya lembayung , gulungan ombak, dan kicauan segerombolan burung sore yang bisa menemaninya. Tanpa dia sadari, pelupuk pipinya mulai basah, rasa itu kini mulai meluap. Lega. Mungkin itu hanya segelintir kecil.
            Angin sore mulai menyapu kulit putih gadis itu, mengibarkan rambutnya nan elok ketika di tiup angin sore. Dia masih termenung, sambil menyusuri pasir putih tanpa alas kaki. Dalam hati, dia ingin sekali beranjak, tetapi ada sesuatu yang sangat kuat menariknya untuk tetap di sini. Sobatnya sudah tenang di alam yang sana. Padahal kejadian itu hampir satu windu  yang lalu. Dia mendongkak, lalu tersenyum.
            Di tengah kerinduan, dia mulai membuka mulutnya, mencoba memberitahu, mungkin dia bisa bercerita, tapi nihil, gagal. Lagi-lagi kelopak mata itu kini di penuhi air, hujan di pipinya menandakan suasana hatinya tak akan baik, dia menangis sejadi-jadinya. Entah dia harus berbuat apa. Tubuhnya mulai melemas, di sertai  tetesan merah dari hidungnya, tetesan itu kini semakin banyak, yang lama kelamaan akan kering terbawa desiran angin. Dia terhuyung. Mengikuti sobat masa kecilnya. Senja berganti malam. Malam yang mulai larut, gelap.

            Calypso.








 

Kamis, 24 Juli 2014

Oribel (┐’⌣’┌)


                Dinginnya angin mulai menyapu kulit wajahku. Sebentar lagi matahariku datang. Dia akan memberikan sinar hangat untuk hari ini, lusa, bahkan untuk esok harinya lagi.
Aku mulai menghirup aroma desahan angin pagi. Angin sepertinya sedang malu-malu, dia datang dengan sayup-sayup lembut. Menjelma menjadi sosok yang tiba-tiba muncul dan tanpa suara. Ah, ternyata aku hanya merindukan matahari. Lagi-lagi…
                Embun yang sedaritadi muncul di rerumputan. Dia mulai menyapaku penuh rindu. Ternyata dia menawan. Dan aku baru menyadarinya. Dia terlihat bersahaja di balik warna yang menjadi karakter alaminya. Dan aku suka.
                Tak kusadari, ternyata ranting pohon kering sedang memperhatikanku. Dia layu, lusuh, dan sering terseret-seret oleh angin. Sebenarnya aku tak tega. Tapi inilah hukum alam, tergantung bagaimana kita memaknainya. Untungnya, ranting sangat sabar. Dia tak sama sekali marah atupun berontak, dia bisa saja mengadu kepada pohon untuk melindunginya dari kejaran angin. Tapi ranting tidak seperti itu, dia berbeda.
                Kicauan beberapa burung menarikku untuk berputar arah ke belakang. Aku berdecak kagum. Inikah sebagian dari ciptaan tuhan? Gunung yang bersandar di langit barat itu rupanya sedang tertidur pulas. Dia sama sekali tak terusik dengan keadaan di sekelilingnya. Mungkin dia capek. Karena sewaktu nenek seumuranku, dia pernah muntah besar-besaran. Itu yang aku ingat dari dongeng nenek ketika aku kecil. Setiap hari gunung selalu diselimuti awan putih nan dingin, di jajahi oleh manusia-manusia yang kurang kerjaan dan kebutuhan makhluk hidup yang bergantung padanya.
                Sepertinya sudah cukup aku berceloteh kesana-kemari. Aku ingin sedikit merebahkan tubuhku, berharap banyak energi positif yang akan ku serap. Karena masih banyak yang ingin kuceritakan tentang negeri ini. Negeri nan elok di perbatasan khatulistiwa.

Calypso.