Entri Populer

Selasa, 22 Juli 2014

Cerpen-Dia Memperhatikanmu


Dia Memperhatikanmu
Oleh: Faradilla Ardiani

                Awal sebuah kisah..
            Ulfah Az-zahra, siswi SMA BUMI AGUNG, tahun ini menempati salah satu kursi di kelas XI IPS 4. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan kenaikan sekolah berakhir. Ulfah mempunyai teman akrab yang biasa di sapa Diana. Secara fisik, Diana masih lebih oke di banding Ulfah, tapi Ulfah juga tak kalah menarik, Ulfah mempunyai wajah manis dan lesung pipi yang menghiasi wajahnya.
            Saat sampai di gerbang sekolah, Ulfah melihat sosok yang tak asing baginya, dia adalah Rio. Seketika itu juga Ulfah menghentikan langkahnya. Rio adalah salah satu bintang yang menghiasi sekolahnya, dia terkenal karena prestasinya di bidang eksak. Wajah Ulfah pun memerah, seketika itu juga dia membayangkan jiwanya berdampingan dengan sosok yang kini mulai berjalan mendekatinya.
            “hai.. kak.. pagi…” sapa Ulfah dengan agak ragu saat sosok itu berada tak jauh darinya.
            “oh, hai.. pagi” jawab Rio sambil memberikan seulas senyum, tapi kedua lengannya masih tetap bersembunyi di saku celananya.
            “kakak sekarang masuk kelas apa?”
            “kelas XI IPA 2, kamu?”
            “oh, aku kelas XI IPS 4”
            “oh ya, dengar-dengar kamu dapat beasiswa?”
            “iya kak!” Ulfah mengangguk pelan
            “selamat ya, kamu hebat!”
            “makasih kak”
            Mendengar pujian itu, Ulfah semakin semangat dalam belajar. Melihat wajah itu merespon sangat senang, Rio sedikit bergembira dalam hatinya, walaupun Rio masih terlihat tenang jika tidak ada yang benar-benar memperhatikan raut garis senang di wajahnya.
            Bel isitirahat berbunyi, satu per satu siswa yang memenuhi kelas kini berhamburan ke sudut-sudut kantin. Diana langsung menarik lengan Ulfah yang di hiasi gelang di gantungi bintang warna-warni.
            “yuk, temenin gue ke kantin, laper nih?” ucap Diana
            “iya tunggu, gue beresin buku dulu”
            “makanya, jangan terlalu rajin baca buku, cepet tua tuh mata loe!”
            “iya bawel loe”
            Saat menuju kantin, dan melewati koridor kelas XII, Ulfah tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasinya. Tapi dia tak berani untuk menyapa Ulfah untuk saat ini, “belum saatnya…” batin sosok itu sambil memandang raut manis Ulfah saat sedang tertawa.





            Esok harinya…
            “loe udah tau belum kalau bakal ada anak baru di sekolah kita? Denger-denger sih dia……” Diana tak meneruskan pembicaraannya, Diana tak tega sepertinya dia juga akan merasakan hal yang sama jika tubuhnya tiba-tiba di hantam sesuatu yang tak mengenakan.
            “kenapa? Kok loe diem?”Tanya Ulfah sambil mengerutkan kening penasaran.
            “dia…dia…..pindah karena kak Rio sekolah di sini” jawab Diana agak terbata-bata.
            “yang bener loe??” Ulfah mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Diana.
            “sumpah deh!” jawab Diana sambil memberikan 2 jarinya.
            “loe udah tau namanya? Cantik gak? Dia pinter juga?” pertanyaan bertubi-tubi pun keluar dari mulut Ulfah.
            “gue belum tau, lagian tuh anak juga ntar ngenalin diri”
            “iya juga sih…”
            Wajah Ulfah yang tadinya begitu ceria, kini berubah menjadi muram. Ulfah memang sudah menyukai Rio sejak duduk di bangku sekolah dasar, mereka juga sudah saling kenal. Di tambah sikap Rio yang perhatian, ya walaupun kadang-kadang Rio juga suka bersikap dingin padanya.
            Bel tanda masuk memang sudah berbunyi, tapi sepertinya tak terdengar oleh Ulfah dan Diana yang sedaritadi sibuk membicarakan penghuni baru di kelasnya. Tak lama, bu Tia masuk kelas, beliau adalah guru matematika sekaligus walikelas XI IPS 4.
            “selamat pagi anak-anak” sapa bu Tia
            “ pagi bu…” jawab seisi kelas
            “hari ini ibu membawa teman baru untuk kalian” bu Tia mempersilahkan seseorang masuk, seketika itu juga, kelas ricuh dengan sambutan hangat dari sebagian siswa.
            “perkenalkan nama saya Yuki Pratiwi, panggil aja Yuki, salam kenal teman-teman” Yuki memperkenalkan diri sambil memberikan seulas senyum yang begitu manis untuk siapapun yang melihatnya.

            Beberapa minggu kemudian…
            Saat sedang jam pelajaran ekonomi, tiba-tiba saja Ulfah ingin sesegera mungkin ke toilet, karena dia sudah tak tahan lagi, dia bangkit dari tempat duduknya. Ulfah meminta izin kepada pak Roni yang baru saja memberi latihan soal. Ketika sudah berada di luar kelas, Ulfah langsung lari secepat mungkin dan menyusuri koridor kelas XI, karena toiletnya berada di ujung koridor, bisa di bilang juga sebagai pembatas antara kelas X dan kelas XI. Ternyata saat keluar dari toilet, dari ujung Ulfah berdiri. Ada sosok yang Ulfah kenal, sosok itu sedang membaca sebuah buku di taman. Siapa lagi kalau bukan “Rio”. Ulfah berjalan mendekati Rio, saat itu juga bel istirahat mulai berbunyi. Belum sempat Ulfah sampai di depan Rio, ternyata Yuki  telah mendahuluinya untuk menemui Rio, “dasar cewek ganjen!” batin Ulfah.
            Ulfah langsung balik badan dan mengurungkan niatnya untuk menemui Rio. Rio pun terlihat sangat akrab dengan Yuki, dan itu semakin membuat emosi Ulfah meluap-luap.





            Perasaan Ulfah semakin campur aduk, entah saat itu juga dia harus memukul siapa agar emosinya sedikit terbalaskan. Kebetulan, hari ini adalah hari minggu, jadi Ulfah bisa seharian mengurung diri di dalam kamarnya. Orangtua Ulfah sudah bercerai 2 tahun lalu, dan kini Ulfah tinggal bersama mamanya , dan mamanya pun sudah menikah lagi. Kedua orangtua Ulfah sama-sama sibuk mengurus bisnis mereka masing-masing. Dan hari ini, Ulfah hanya bisa duduk sambil memeluk kedua lututnya, tak dia sadari, matanya mulai menegeluarkan air yang membasahi pipinya.
            “nak, sudah siang..belum bangun juga?” suara mamanya mengagetkan lamunannya. Ulfah langsung buru-buru mengusap air matanya.
            “iya ma, tapi Ulfah masih ngantuk, lagian sekarang kan libur?” ulfah mencoba agar suaranya seperti orang yang masih mengantuk.
            “oh ya sudah, mama pergi ke toko dulu ya, di meja juga udah ada sarapan”
            “ iya ma..” ulfah menghembuskan nafas leganya

            Esok harinya, Ulfah terlihat sangat malas-malasan saat berangkat ke sekolah, Ulfah melihat Rio dan teman-temannya berjalan berlawanan dengannya. Hari ini Rio keliatan sangat senang, itu terlihat dari tawanya yang begitu lepas. Tidak seperti biasanya, kali ini Ulfah malah memalingkan wajahnya saat berpapasan dengan Rio. Rio mengerutkan keningnya “kenapa dia?” tanyanya dalam hati. Ada rasa cemas yang menjalar dalam tubuh Rio, entah sejak kapan, dia merasakan hal yang aneh dalam dirinya bila bertemu atau berbicara dengan gadis itu.
            “di tekuk aja tuh muka?” suara Diana mengagetkan Ulfah, terlihat seulas senyum dari Diana saat Ulfah memalingkan wajahnya pada Diana.
            “nyengir aja loe! Kaya kuda aja?”
            “apaaa???? Loe nyamain gue ama kuda????euh! ulfaaahhhhh…….” Diana berteriak sambil megacak-ngacak poni Ulfah. Ulfah berlari menghindari Diana sambil membetulkan poninya, tak sengaja Ulfah menubruk bahu seseorang. Tubuh Ulfah terhuyung karena kalah kuat, Ulfah merasa dirinya akan jatuh saat itu juga, tapi sayangnya tidak, karena seseorang dengan sigap menangkap tubuhnya dan langsung menarik ke dalam pelukkannya. Dua pasang mata itu saling berpandangan dalam jarak yang sangat amat dekat. Tak Ulfah sadari, di ujung koridor sana, Rio memperhatikannya lekat-lekat.
            “eh…maaf maaf” celetuk Ulfah sambil melepaskan pelukan itu. Diana yang melihat kejadian itu sontak terbelalak.
            “cie Ulfah, pangeran loe tuh!” sahut Diana sambil menutupi tawanya dengan tangan kanan mungilnya.
            “iya gapapa, lain kali liat-liat ya?” jawab sosok itu sambil memberikan seulas senyum manis untuk Ulfah. Ulfah membalas senyum sosok itu, sosok itu mulai pergi dan meninggalkan Ulfah yang mulai mematung. Teringat akan tingkah sahabatnya tadi, tanpa pikir panjang, Ulfah langsung mengejar Diana.
            “dianaaa…awas loe ya!!” kejar-kejaran diantara mereka berdua pun tak terhindarkan. Sampai-sampai mereka tak menyadari, mereka di perhatikan banyak pasang mata.




            Ulfah masih penasaran akan sosok yang menolongnya tadi. Bagaimana tidak? Ulfah seperti baru melihat sosok itu di sekolahnya, “dia anak baru tah?” gumamnya dalam hati. Pertanyaan itu semakin banyak memenuhi ruang angannya. Ulfah tak menyadari, kini Rio telah berada di sampingnya.
            “masa kamu gak kenal dia? Dia kan Rafa, cowok idaman cewek-cewek di sini, beruntung banget ya tadi di peluk?” Tanya Rio, seakan dia tau apa yang sedang ada dalam pikiran gadis di sampingnya itu.
            “oh..dia yang namanya kak Rafa itu?aku gak tau orangnya, cuma familiar aja ama namanya” Ulfah masih tak menyadari, kalau Rio diam-diam memperhatikan wajahnya lekat-lekat. Melihat kesenangan di wajah itu, Rio sepertinya semakin yakin akan dugaannya, bahwa Ulfah mulai menyukai Rafa. Ulfah tak tau, kalau kini Rio sangat rapuh, sejak melihat kejadian tadi.
            Dari kejauhan terlihat Rafa yang berjalan dan sepertinya akan menghampiri mereka berdua. Dan benar saja, maksud kedatangan Rafa adalah untuk menemui Ulfah.
            “Ulfah aku mau ngomong sebentar, ikut aku” kata Rafa tanpa basa-basi sambil melirik tajam kepada Rio dan langsung menarik lengan Ulfah. Ternyata Rafa membawa Ulfah ke depan perpustakaan yang kini sudah tutup. Rafa mengeluarkan sesuatu dari saku celanya. Ternyata hanya sebuah kain berwarna biru muda yang bergambar bintang di tengahnya. Ulfah sangat kaget saat Rafa menunjukan kain tersebut.
            “kamu ingat ini?” Tanya Rafa
            “ituuu…..kaan….kain yang aku kasih samaaa………” Ulfah menjawabnya dengan terbata-bata.
            “aku Rafa, teman masa kecilmu, ingat kan?”
            “kakak… Rafa kecil itu?”
            “iya Ulfah” Rafa sedikit membungkuk sambil menatap Ulfah penuh rindu.
            Ulfah tak bisa membendung air matanya, Ulfah menangis di hadapan Rafa.
            “kenapa kamu menangis?...peri kecilku??” Tanya Rafa sambil mengusap air mata yang mulai menjatuhi pipi Ulfah. Ulfah tak menjawab pertanyaan Rafa. Akhirnya Rafa menarik Ulfah ke dalam pelukkannya. Saat itu, Ulfah tak berontak. Rafa membisikkan sesuatu di telinga Ulfah.
            “aku sayang kamu, semoga kamu rasakan yang sama, kamu tetap menjadi peri kecilku, terima kasih untuk senyum dan juga tawa yang selalu kamu tebar setiap hari, meskipun itu bukan untukku, hanya sederhana itu rasaku”
            “rafaa…maafin aku”
            “kamu gak pernah salah di mataku, sekarang cuma satu permintaanku…..maukah kamu menjadi pacarku?” pertanyaan Rafa sontak membuat Ulfah terbelalak.
            “apa aku harus jawab sekarang?” Tanya Ulfah sambil melepaskan pelukkan Rafa, lalu beralih menatap sosok yang berdiri di tengah rintikan hujan. Ya! Dia Rio, Rio mendengar semunya. Rio merasa dirinya sangat amat rapuh, bahkan dia tak merasakan dinginnya angin saat hujan, di tambah dengan bajunya yang kini sudah basah kuyup. Yang Rio inginkan saat ini adalah, gadis itu seharusnya ada di pelukkannya, bukan di pelukkan Rafa. Ulfah sangat khawatir melihat Rio seperti membeku. Ulfah berlari ke arah Rio sambil menembus rintikan hujan.



            “kak Rio, kakak ngapain di sini?” Tanya Ulfah dengan nada cemas. Rio tak menjawab, dia hanya memandangi gadis yang ada di hadapannya.
            “kakak kenapa?” ulfah bertanya lagi sambil menggoyangkan tubuh Rio pelan-pelan.
            “aku juga sayang kamu” akhirnya Rio mulai membuka mulutnya, dan satu kalimat itu malah membuat jantung Ulfah berdegup lebih kencang.
            Ulfah kembali mengeluarkan air matanya, Ulfah langsung memeluk sosok yang kini ada di hadapannya. Rio merasa tubuhnya kembali terisi energy lagi, akhirnya Rio membalas pelukkan Ulfah.
            “aku juga sayang kakak, saat kakak menolongku, saat aku jatuh, 10 tahun lalu..”
            Rio semakin mengeratkan pelukkannya. Ulfah teringat, bahwa masih ada Rafa. Ulfah akhirnya melepaskan pelukkan Rio pelan-pelan dan beralih ke arah Rafa, Rafa pun menghampiri mereka berdua.
            “selamat ya Rio, loe menang, titip yaa.. jangan pernah loe buat dia nangis, karna loe bakal berurusan sama gue!”
            “iya tenang aja, sebisa mungkin…gue akan selalu buat dia bahagia” jawab Rio sambil melirik lalu tersenyum ke arah Ulfah.

            Pagi ini matahari tak terlihat malu-malu untuk menunjukkan sinarnya. Burung-burung berkicau kesana-kemari. Benar-benar hari yang sempurna, begitu juga dengan suasana dua insan ini, Rio dan Ulfah. Hari ini Ulfah memang berangkat bersama Rio, Rio sengaja menjemput Ulfah. Saat sampai di parkiran dan Rio memarkirkan motornya, Ulfah melihat dari jauh, Diana berlari ke arahnya. Nafasnya sedikit terengah-engah, tapi Diana mencoba menenangkan dirinya.
            “kenapa loe?di kejar kambing?” Tanya Ulfah
            “enak aja loe!....ehmm……” Diana teringat akan maksudnya lalu menepuk jidatnya. “loe udah tau, kalo si Yuki meninggal karena kecelakaan pas pulang sekolah?”
            “hah?kejadiannya gimana?”
            “gue juga gak tau pasti, tapi yang jelas, tuh anak gak bakal bisa ngerebut Rio dari loe, bener kan?”
            Rio yang penasaran, akhirnya menghampiri dua gadis itu.
            “ada apa sih?”
            “itu kak…ehm…si yuki…yuki kak….” Jawab Ulfah sambil kebingungan
            “yuki kenapaa???” Tanya Rio dengan penasaran
            “yuki meninggal karena kecelakaan pas pulang sekolah kak!” Diana memperjelas.
            Rio merasakan tubuhnya agak melemas. Ulfah yang melihat perubahan itu, langsung bisa memastikan bahwa Rio masih mempunyai rasa kepada Yuki. Rio yang mengetahui mimik wajah Ulfah berubah, langsung meraih kedua lengan Ulfah.
            “aku tetap sayang kamu, dia itu sepupu aku, cuma aku udah anggap dia kayak adik sendiri” kata Rio
            “sepupu?tapi kok kaya bukan sepupu ya?” gerutu Ulfah




            “yuki itu pengen aku jadi kakaknya, dia broken home… sayang, kamu percaya kan sama aku?” Tanya Rio, Ulfah pun hanya menganguk pelan.
            “hellooo…kalian nyadar gue ada di sini gak sih?” Tanya Diana dengan agak kesal.
            “oh iya lupa..” jawab Ulfah
            “ oh iya, kalian kan udah jadian nih…traktirannya mana??” kata Diana sambil cengar-cengir.
            “apaan loe?loe jadian ama Rizky aja, gue gak dapet traktir?enak aja! Huuhhh….” Ulfah meledek Diana
            “ulfaahhhh…awas loe!” Diana mengejar Ulfah, seperti biasa, kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Rio yang melihat kejadian tersebut, hanya tersenyum.
            “siapapun kamu, bagaimanapun kamu…aku tetap sayang kamu” batin Rio
            Sementara itu, Rafa sepertinya sudah mendapat pengganti Ulfah, yaitu Selly, gadis yang kini menjadi idola diantara kelas X yang lain.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar