♪Dia Memperhatikanmu
Oleh: Faradilla Ardiani
Awal sebuah kisah..
Ulfah Az-zahra, siswi SMA BUMI AGUNG, tahun ini menempati
salah satu kursi di kelas XI IPS 4. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah
setelah liburan kenaikan sekolah berakhir. Ulfah mempunyai teman akrab yang
biasa di sapa Diana. Secara fisik, Diana masih lebih oke di banding Ulfah, tapi
Ulfah juga tak kalah menarik, Ulfah mempunyai wajah manis dan lesung pipi yang
menghiasi wajahnya.
Saat sampai di gerbang sekolah, Ulfah melihat sosok yang
tak asing baginya, dia adalah Rio. Seketika itu juga Ulfah menghentikan
langkahnya. Rio adalah salah satu bintang yang menghiasi sekolahnya, dia terkenal
karena prestasinya di bidang eksak. Wajah Ulfah pun memerah, seketika itu juga
dia membayangkan jiwanya berdampingan dengan sosok yang kini mulai berjalan
mendekatinya.
“hai.. kak.. pagi…” sapa Ulfah dengan agak ragu saat
sosok itu berada tak jauh darinya.
“oh, hai.. pagi” jawab Rio sambil memberikan seulas
senyum, tapi kedua lengannya masih tetap bersembunyi di saku celananya.
“kakak sekarang masuk kelas apa?”
“kelas XI IPA 2, kamu?”
“oh, aku kelas XI IPS 4”
“oh ya, dengar-dengar kamu dapat beasiswa?”
“iya kak!” Ulfah mengangguk pelan
“selamat ya, kamu hebat!”
“makasih kak”
Mendengar pujian itu, Ulfah semakin semangat dalam
belajar. Melihat wajah itu merespon sangat senang, Rio sedikit bergembira dalam
hatinya, walaupun Rio masih terlihat tenang jika tidak ada yang benar-benar
memperhatikan raut garis senang di wajahnya.
Bel isitirahat berbunyi, satu per satu siswa yang
memenuhi kelas kini berhamburan ke sudut-sudut kantin. Diana langsung menarik lengan
Ulfah yang di hiasi gelang di gantungi bintang warna-warni.
“yuk, temenin gue ke kantin, laper nih?” ucap Diana
“iya tunggu, gue beresin buku dulu”
“makanya, jangan terlalu rajin baca buku, cepet tua tuh
mata loe!”
“iya bawel loe”
Saat menuju kantin, dan melewati koridor kelas XII, Ulfah
tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasinya. Tapi dia tak berani
untuk menyapa Ulfah untuk saat ini, “belum saatnya…” batin sosok itu sambil
memandang raut manis Ulfah saat sedang tertawa.
Esok harinya…
“loe udah tau belum kalau bakal ada anak baru di sekolah
kita? Denger-denger sih dia……” Diana tak meneruskan pembicaraannya, Diana tak
tega sepertinya dia juga akan merasakan hal yang sama jika tubuhnya tiba-tiba
di hantam sesuatu yang tak mengenakan.
“kenapa? Kok loe diem?”Tanya Ulfah sambil mengerutkan
kening penasaran.
“dia…dia…..pindah karena kak Rio sekolah di sini” jawab
Diana agak terbata-bata.
“yang bener loe??” Ulfah mengubah posisi duduknya menjadi
menghadap Diana.
“sumpah deh!” jawab Diana sambil memberikan 2 jarinya.
“loe udah tau namanya? Cantik gak? Dia pinter juga?”
pertanyaan bertubi-tubi pun keluar dari mulut Ulfah.
“gue belum tau, lagian tuh anak juga ntar ngenalin diri”
“iya juga sih…”
Wajah Ulfah yang tadinya begitu ceria, kini berubah
menjadi muram. Ulfah memang sudah menyukai Rio sejak duduk di bangku sekolah
dasar, mereka juga sudah saling kenal. Di tambah sikap Rio yang perhatian, ya
walaupun kadang-kadang Rio juga suka bersikap dingin padanya.
Bel tanda masuk memang sudah berbunyi, tapi sepertinya
tak terdengar oleh Ulfah dan Diana yang sedaritadi sibuk membicarakan penghuni
baru di kelasnya. Tak lama, bu Tia masuk kelas, beliau adalah guru matematika
sekaligus walikelas XI IPS 4.
“selamat pagi anak-anak” sapa bu Tia
“ pagi bu…” jawab seisi kelas
“hari ini ibu membawa teman baru untuk kalian” bu Tia
mempersilahkan seseorang masuk, seketika itu juga, kelas ricuh dengan sambutan
hangat dari sebagian siswa.
“perkenalkan nama saya Yuki Pratiwi, panggil aja Yuki,
salam kenal teman-teman” Yuki memperkenalkan diri sambil memberikan seulas
senyum yang begitu manis untuk siapapun yang melihatnya.
Beberapa minggu kemudian…
Saat sedang jam pelajaran ekonomi, tiba-tiba saja Ulfah
ingin sesegera mungkin ke toilet, karena dia sudah tak tahan lagi, dia bangkit dari
tempat duduknya. Ulfah meminta izin kepada pak Roni yang baru saja memberi
latihan soal. Ketika sudah berada di luar kelas, Ulfah langsung lari secepat
mungkin dan menyusuri koridor kelas XI, karena toiletnya berada di ujung
koridor, bisa di bilang juga sebagai pembatas antara kelas X dan kelas XI.
Ternyata saat keluar dari toilet, dari ujung Ulfah berdiri. Ada sosok yang
Ulfah kenal, sosok itu sedang membaca sebuah buku di taman. Siapa lagi kalau
bukan “Rio”. Ulfah berjalan mendekati Rio, saat itu juga bel istirahat mulai
berbunyi. Belum sempat Ulfah sampai di depan Rio, ternyata Yuki telah mendahuluinya untuk menemui Rio, “dasar
cewek ganjen!” batin Ulfah.
Ulfah langsung balik badan dan mengurungkan niatnya untuk
menemui Rio. Rio pun terlihat sangat akrab dengan Yuki, dan itu semakin membuat
emosi Ulfah meluap-luap.
Perasaan Ulfah semakin campur aduk, entah saat itu juga
dia harus memukul siapa agar emosinya sedikit terbalaskan. Kebetulan, hari ini
adalah hari minggu, jadi Ulfah bisa seharian mengurung diri di dalam kamarnya.
Orangtua Ulfah sudah bercerai 2 tahun lalu, dan kini Ulfah tinggal bersama
mamanya , dan mamanya pun sudah menikah lagi. Kedua orangtua Ulfah sama-sama
sibuk mengurus bisnis mereka masing-masing. Dan hari ini, Ulfah hanya bisa
duduk sambil memeluk kedua lututnya, tak dia sadari, matanya mulai
menegeluarkan air yang membasahi pipinya.
“nak, sudah siang..belum bangun juga?” suara mamanya
mengagetkan lamunannya. Ulfah langsung buru-buru mengusap air matanya.
“iya ma, tapi Ulfah masih ngantuk, lagian sekarang kan
libur?” ulfah mencoba agar suaranya seperti orang yang masih mengantuk.
“oh ya sudah, mama pergi ke toko dulu ya, di meja juga
udah ada sarapan”
“ iya ma..” ulfah menghembuskan nafas leganya
Esok harinya, Ulfah terlihat sangat malas-malasan saat
berangkat ke sekolah, Ulfah melihat Rio dan teman-temannya berjalan berlawanan
dengannya. Hari ini Rio keliatan sangat senang, itu terlihat dari tawanya yang
begitu lepas. Tidak seperti biasanya, kali ini Ulfah malah memalingkan wajahnya
saat berpapasan dengan Rio. Rio mengerutkan keningnya “kenapa dia?” tanyanya
dalam hati. Ada rasa cemas yang menjalar dalam tubuh Rio, entah sejak kapan,
dia merasakan hal yang aneh dalam dirinya bila bertemu atau berbicara dengan
gadis itu.
“di tekuk aja tuh muka?” suara Diana mengagetkan Ulfah,
terlihat seulas senyum dari Diana saat Ulfah memalingkan wajahnya pada Diana.
“nyengir aja loe! Kaya kuda aja?”
“apaaa???? Loe nyamain gue ama kuda????euh!
ulfaaahhhhh…….” Diana berteriak sambil megacak-ngacak poni Ulfah. Ulfah berlari
menghindari Diana sambil membetulkan poninya, tak sengaja Ulfah menubruk bahu
seseorang. Tubuh Ulfah terhuyung karena kalah kuat, Ulfah merasa dirinya akan
jatuh saat itu juga, tapi sayangnya tidak, karena seseorang dengan sigap
menangkap tubuhnya dan langsung menarik ke dalam pelukkannya. Dua pasang mata
itu saling berpandangan dalam jarak yang sangat amat dekat. Tak Ulfah sadari,
di ujung koridor sana, Rio memperhatikannya lekat-lekat.
“eh…maaf maaf” celetuk Ulfah sambil melepaskan pelukan
itu. Diana yang melihat kejadian itu sontak terbelalak.
“cie Ulfah, pangeran loe tuh!” sahut Diana sambil
menutupi tawanya dengan tangan kanan mungilnya.
“iya gapapa, lain kali liat-liat ya?” jawab sosok itu
sambil memberikan seulas senyum manis untuk Ulfah. Ulfah membalas senyum sosok
itu, sosok itu mulai pergi dan meninggalkan Ulfah yang mulai mematung. Teringat
akan tingkah sahabatnya tadi, tanpa pikir panjang, Ulfah langsung mengejar
Diana.
“dianaaa…awas loe ya!!” kejar-kejaran diantara mereka
berdua pun tak terhindarkan. Sampai-sampai mereka tak menyadari, mereka di
perhatikan banyak pasang mata.
Ulfah masih penasaran akan sosok yang menolongnya tadi.
Bagaimana tidak? Ulfah seperti baru melihat sosok itu di sekolahnya, “dia anak
baru tah?” gumamnya dalam hati. Pertanyaan itu semakin banyak memenuhi ruang
angannya. Ulfah tak menyadari, kini Rio telah berada di sampingnya.
“masa kamu gak kenal dia? Dia kan Rafa, cowok idaman
cewek-cewek di sini, beruntung banget ya tadi di peluk?” Tanya Rio, seakan dia
tau apa yang sedang ada dalam pikiran gadis di sampingnya itu.
“oh..dia yang namanya kak Rafa itu?aku gak tau orangnya,
cuma familiar aja ama namanya” Ulfah masih tak menyadari, kalau Rio diam-diam
memperhatikan wajahnya lekat-lekat. Melihat kesenangan di wajah itu, Rio
sepertinya semakin yakin akan dugaannya, bahwa Ulfah mulai menyukai Rafa. Ulfah
tak tau, kalau kini Rio sangat rapuh, sejak melihat kejadian tadi.
Dari kejauhan terlihat Rafa yang berjalan dan sepertinya
akan menghampiri mereka berdua. Dan benar saja, maksud kedatangan Rafa adalah
untuk menemui Ulfah.
“Ulfah aku mau ngomong sebentar, ikut aku” kata Rafa
tanpa basa-basi sambil melirik tajam kepada Rio dan langsung menarik lengan
Ulfah. Ternyata Rafa membawa Ulfah ke depan perpustakaan yang kini sudah tutup.
Rafa mengeluarkan sesuatu dari saku celanya. Ternyata hanya sebuah kain
berwarna biru muda yang bergambar bintang di tengahnya. Ulfah sangat kaget saat
Rafa menunjukan kain tersebut.
“kamu ingat ini?” Tanya Rafa
“ituuu…..kaan….kain yang aku kasih samaaa………” Ulfah
menjawabnya dengan terbata-bata.
“aku Rafa, teman masa kecilmu, ingat kan?”
“kakak… Rafa kecil itu?”
“iya Ulfah” Rafa sedikit membungkuk sambil menatap Ulfah
penuh rindu.
Ulfah tak bisa membendung air matanya, Ulfah menangis di
hadapan Rafa.
“kenapa kamu menangis?...peri kecilku??” Tanya Rafa
sambil mengusap air mata yang mulai menjatuhi pipi Ulfah. Ulfah tak menjawab
pertanyaan Rafa. Akhirnya Rafa menarik Ulfah ke dalam pelukkannya. Saat itu,
Ulfah tak berontak. Rafa membisikkan sesuatu di telinga Ulfah.
“aku sayang kamu, semoga kamu rasakan yang sama, kamu
tetap menjadi peri kecilku, terima kasih untuk senyum dan juga tawa yang selalu
kamu tebar setiap hari, meskipun itu bukan untukku, hanya sederhana itu rasaku”
“rafaa…maafin aku”
“kamu gak pernah salah di mataku, sekarang cuma satu
permintaanku…..maukah kamu menjadi pacarku?” pertanyaan Rafa sontak membuat
Ulfah terbelalak.
“apa aku harus jawab sekarang?” Tanya Ulfah sambil melepaskan
pelukkan Rafa, lalu beralih menatap sosok yang berdiri di tengah rintikan
hujan. Ya! Dia Rio, Rio mendengar semunya. Rio merasa dirinya sangat amat
rapuh, bahkan dia tak merasakan dinginnya angin saat hujan, di tambah dengan
bajunya yang kini sudah basah kuyup. Yang Rio inginkan saat ini adalah, gadis
itu seharusnya ada di pelukkannya, bukan di pelukkan Rafa. Ulfah sangat
khawatir melihat Rio seperti membeku. Ulfah berlari ke arah Rio sambil menembus
rintikan hujan.
“kak Rio, kakak ngapain di sini?” Tanya Ulfah dengan nada
cemas. Rio tak menjawab, dia hanya memandangi gadis yang ada di hadapannya.
“kakak kenapa?” ulfah bertanya lagi sambil menggoyangkan
tubuh Rio pelan-pelan.
“aku juga sayang kamu” akhirnya Rio mulai membuka
mulutnya, dan satu kalimat itu malah membuat jantung Ulfah berdegup lebih
kencang.
Ulfah kembali mengeluarkan air matanya, Ulfah langsung
memeluk sosok yang kini ada di hadapannya. Rio merasa tubuhnya kembali terisi
energy lagi, akhirnya Rio membalas pelukkan Ulfah.
“aku juga sayang kakak, saat kakak menolongku, saat aku
jatuh, 10 tahun lalu..”
Rio semakin mengeratkan pelukkannya. Ulfah teringat,
bahwa masih ada Rafa. Ulfah akhirnya melepaskan pelukkan Rio pelan-pelan dan
beralih ke arah Rafa, Rafa pun menghampiri mereka berdua.
“selamat ya Rio, loe menang, titip yaa.. jangan pernah
loe buat dia nangis, karna loe bakal berurusan sama gue!”
“iya tenang aja, sebisa mungkin…gue akan selalu buat dia
bahagia” jawab Rio sambil melirik lalu tersenyum ke arah Ulfah.
Pagi
ini matahari tak terlihat malu-malu untuk menunjukkan sinarnya. Burung-burung
berkicau kesana-kemari. Benar-benar hari yang sempurna, begitu juga dengan
suasana dua insan ini, Rio dan Ulfah. Hari ini Ulfah memang berangkat bersama
Rio, Rio sengaja menjemput Ulfah. Saat sampai di parkiran dan Rio memarkirkan
motornya, Ulfah melihat dari jauh, Diana berlari ke arahnya. Nafasnya sedikit
terengah-engah, tapi Diana mencoba menenangkan dirinya.
“kenapa loe?di kejar kambing?” Tanya Ulfah
“enak aja loe!....ehmm……” Diana teringat akan maksudnya
lalu menepuk jidatnya. “loe udah tau, kalo si Yuki meninggal karena kecelakaan
pas pulang sekolah?”
“hah?kejadiannya gimana?”
“gue juga gak tau pasti, tapi yang jelas, tuh anak gak
bakal bisa ngerebut Rio dari loe, bener kan?”
Rio yang penasaran, akhirnya menghampiri dua gadis itu.
“ada apa sih?”
“itu kak…ehm…si yuki…yuki kak….” Jawab Ulfah sambil
kebingungan
“yuki kenapaa???” Tanya Rio dengan penasaran
“yuki meninggal karena kecelakaan pas pulang sekolah
kak!” Diana memperjelas.
Rio merasakan tubuhnya agak melemas. Ulfah yang melihat
perubahan itu, langsung bisa memastikan bahwa Rio masih mempunyai rasa kepada
Yuki. Rio yang mengetahui mimik wajah Ulfah berubah, langsung meraih kedua
lengan Ulfah.
“aku tetap sayang kamu, dia itu sepupu aku, cuma aku udah
anggap dia kayak adik sendiri” kata Rio
“sepupu?tapi kok kaya bukan sepupu ya?” gerutu Ulfah
“yuki itu pengen aku jadi kakaknya, dia broken home… sayang,
kamu percaya kan sama aku?” Tanya Rio, Ulfah pun hanya menganguk pelan.
“hellooo…kalian nyadar gue ada di sini gak sih?” Tanya
Diana dengan agak kesal.
“oh iya lupa..” jawab Ulfah
“ oh iya, kalian kan udah jadian nih…traktirannya mana??”
kata Diana sambil cengar-cengir.
“apaan loe?loe jadian ama Rizky aja, gue gak dapet
traktir?enak aja! Huuhhh….” Ulfah meledek Diana
“ulfaahhhh…awas loe!” Diana mengejar Ulfah, seperti
biasa, kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Rio yang melihat kejadian tersebut,
hanya tersenyum.
“siapapun kamu, bagaimanapun kamu…aku tetap sayang kamu”
batin Rio
Sementara itu, Rafa sepertinya sudah mendapat pengganti
Ulfah, yaitu Selly, gadis yang kini menjadi idola diantara kelas X yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar