Shila berlari, berlari di tengah rintiknya hujan, Shila
merasakan air yang menyentuh kulitnya seperti jarum yang lancip, yang bisa
melukai siapa saja, bila ia sudah jatuh bebas. Shila merasakan sesak yang kini mulai
mejalar di tubuhnya, saat Shila tau, sosok itu hatinya tak sendiri. Semilir
angin sore, mengingatkan Shila pada 10 tahun lalu, dimana Shila baru memasuki
bangku sekolah dasar. Siang hari itu, hari kedua Shila di sekolah, saat
perjalanan pulang, belum sempat Shila sampai rumah, hujan telah menghadangnya
duluan, Shila berlari semampunya, tapi nyatanya, Shila malah terpeleset dan
jatuh di depan genangan air hujan. Baju seragamnya penuh bercak lumpur, sudah
terbayangkan amukan mamahnya ketika sampai di rumah, apalagi beliau melihat
baju seragamnya kotor. Shila mencoba menghilangkan noda di bajunya, tapi noda
itu malah makin terlihat jelas. Tiba-tiba, seperti ada yang menghampirinya,
Shila mendongkak, seketika itu juga Shila mengerutkan kening “siapa dia?” batinnya
saat itu. Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya, akhirnya Shila meraih
lengan itu sambil tersenyum.
“makasih..” lirih Shila. Tapi
anak laki-laki itu tak merespon apapun, sikapnya sangat dingin, dia tak
tersenyum sedikitpun. Dia malah pergi sambil mengayuh sepedanya. Shila tersadar
dari lamunannya, bahwa dia hanya akan membuat rasa rindu, bila mengingat 10
tahun lalu.
Tak terasa, perjalanan dengan
jalan kaki malah membuatnya sampai di depan gerbang rumah, tapi entah kenapa,
rumahnya seperti menunjukkan kesedihan tersendiri. Shila seperti enggan masuk
ke dalam rumah itu, padahal rumah ini adalah rumah yang sudah Shila dan
keluarganya tempati selama beberapa tahun, mungkin terlalu banyak kenangan,
terlalu banyak kegembiraan, terlalu banyak kesedihan yang di tampung oleh rumah
ini. Walaupun, dindingnya masih sangat terlihat kokoh.
Hujan memang sudah reda,
dentingan suara adzan pun mulai terdengar, akhirnya Shila putuskan untuk
mengulurkan niatnya pulang ke rumah. Tak Shila sadari, langkah kakinya malah
membawa Shila ke mushola yang jaraknya tak jauh dari rumah. Shila mengambil air
wudhu dan shalat berjama’ah.
Setelah selesai shalat,
Shila seperti enggan beranjak, dia merasakan kesunyiaan, keheningan, dan rasa
nyaman yang semakin menguatkannya untuk enggan bangkit dari tempat ini. Shila
kembali memainkan angan yang ada dalam benaknya. Terbesit satu angan yang terus
berputar-putar, gelak tawa antara Shila dan papahnya, papahnya sering
membacakan dongeng sebelum Shila tidur, mengelus rambutnya hingga terlelap.
Shila ingin berontak, tapi nyatanya, kehidupannya jauh berbeda dengan yang
dulu. Tak lama, Shila mendengar ponselnya berdering. “dari kak rahman, tumben
dia sms” gumamnya saat itu.
Rahman adalah senior Shila di
sekolah, sekaligus seniornya juga di ekstakurikuler yang Shila ikuti. Seumur
hidupnya, Shila baru kali ini shila di beri tanggungjawab yang sangat berat,
yaitu memimpin salah satu organisasi yang ada di sekolah. Shila pun membalas
sms dari Rahman.
Beberapa minggu
kemudian….
Hujan
sepertinya tak mau berhenti menghamburkan air, pagi itu Shila memakai jaket ke
sekolah, karena Shila tak kuat dengan udara yang dingin, jaket yang Shila pakai
ini, pemberian dari tantenya. Walaupun kesan modelnya jadul, tapi Shila tetap
menyukai jaket ini.
“sayang, udah sarapan?”
teriak mamah Shila dari arah kamarnya.
“udah mah” jawab Shila.
“jangan lupa di minum
vitaminnya”
“iyaaa maahh………” jawab Shila
sedikit berteriak dengan nada panjang di akhir kalimatnya.
“mah, shila berangkat dulu
yaa”
“hati-hati ya, jangan lupa
makan siang, pulangnya jangan sore-sore”
“oke mam!” kata Shila sambil
menarik tas biru yang biasa Shila pakai ke sekolah.
Sesampainya di
sekolah,
Oh iya, nama lengkap Shila
adalah Atshila Wijayanti, tahun ini Shila duduk di kelas XI IPA 2, dan menjabat
sebagai ketua ekskul EC (English Club). Di sekolah, Shila mempunyai beberapa
sobat yang paling setia. Ada si cuek Rama, si pintar Zahra, si culun Nino dan yang
tak ketinggalan si cerewet Hana. Walaupun karakter mereka berbeda-beda, tapi
mereka selalu banyak ide untuk membuat Shila tertawa.
“eh, udah pada nonton filmnya raditya dika belum yang cinta
brontosaurus?” tanya Hana mengawali pembicaraan pagi itu
“belum..” jawab Rama singkat.
“kalo aku sih gak minat,
lebih suka yang genrenya romance, kaya refrain” kata Zahra
“kok cinta brontosaurus sih?aneh banget judulnya?berarti
nyeritain dinosaurus dong?” tanya Nino
“gak gitu juga ninoo..” jawab
Hana
“terus kenapa di kasih judul
cinta brontosaurus, han?” tanya Nino penasaran
“tanya aja sonoh ama yang
buatnya” kata Hana dengan nada sedikit berteriak
“kenapa nih anak dua pagi-pagi udah ribut?” tanya Shila pada
Rama yang sedang asik main PSP dan Zahra yang sedang membaca novel
“biasaa lah, anak ayam” jawab
Rama tanpa menoleh ke sumber suara.
“ayam?emang ayam termasuk dinosaurus ya ram?” Nino
menggaruk-garukkan tangannya ke kepala
“terserah loe.. .iye ayam masuk jajaran dinosaurus” kata Rama,
lalu kembali asik dengan PSPnya.
“jajaran?emang ayamnya baris
ram?” tanya Nino lagi
“apa no?gue gak denger…” jawab Rama lalu memasangkan
headsetnya ke telinga, Rama memang sering menggantungkan headsetnya, katanya
untuk jaga-jaga kalau Nino lagi kambuh. Shila hanya bisa tertawa melihat
tingkah teman-temannya.
KRRIIIIIINNNGGGG!!!!...
Bel tanda masuk berbunyi, saatnya jam pelajaran di mulai.
Pelajaran pertama hari ini adalah Fisika, segerombolan anak-anak yang tadinya
sedang asik duduk di depan kelas, tiba-tiba berhamburan ke dalam kelas, itu
pertanda bahwa ada guru yang akan datang.
“ada pak Udin tah, dit?”
tanya Diana kepada Adit yang sedari berangkat sekolah udah nongrong di depan
kelas.
“iyaa..” sambil meletakkan
tas ke mejanya “pe-er udah belum?” tanya Adit kepada seisi kelas.
“oh iyaa, gue lupa!”
“hahh?pe-er yang mana?” “emang ada pe-er?” jawaban bermacam-macam pun
bertubi-tubi datang untuk Adit. “udah dong, makanya kalau punya pe-er tuh di
kerjain” jawab seorang gadis yang baru saja masuk, dia adalah Yura. Yura memang
pintar, cantik, rajin mengerjakan pe-er, tapi sayangnya setiap akan ulangan,
dia selalu menyiapkan contekan, selain itu dia juga terkenal pelit, mungkin itu
yang membuat Shila tak menyukai kepribadian dan agak menjaga jarak dengan gadis
itu.
Hari ini pelajaran di tutup
oleh kelas dari ibu Nika, beliau adalah guru Bahasa Indonesia di kelas Shila.
Logat jawanya yang medok, sering kali menjadikan bahan gurauan di kelas. Walau
begitu, beliau tak pernah marah dengan tingkah muridnya yang kadang membuatnya
kesal.
Shila menyusuri koridor kelas
XI dan melewati koridor kelas XII, Shila merasakan ada yang memegang pundak
sebelah kiri. Saat shila menoleh, ternyata Rahman. Seperti biasa, dia selalu
menebar senyum. Sikapnya yang hangat kepada setiap perempuan sering kali
membuat Shila terenyuh, dan hanyut. Sebenarnya, saat pertama kali bertemu
Rahman, Shila pernah menaruh rasa padanya. Tapi Shila buru-buru menghilangkan
rasa itu, saat Shila mulai tau, Rahman masih ada ikatan keluarga dekat
dengannya.
“hai..” sapa Rahman
“hai kak!”
“sendiri aja?oh iya, gimana
di eskul?”
“sama kakak jadi berdua, gak
gimana-gimana kak, mudah-mudahan lebih baik dari sebelumnya”
“harus ituu!” kata Rahman sambil
memberikan jempol kanannya untuk Shila. Sedikit keheningan menyapu obrolan
Shila dan Rahman di siang hari itu. Shila sedikit melihat raut kesedihan di
dalam diri Rahman, mungkin ini ada hubungannya dengan kabar burung yang Shila
dengar dari teman-temannya. Shila ingin mencoba memastikan kebenarannya, tapi
sepertinya Shila belum cukup energi untuk membuka mulut duluan tentang masalah
pribadi seseorang.
“pulang naik apa, shil?” suara Rahman mengagetkan Shila
“biasa kak, naik angkot” jawab Shila
“mau bareng gak?”
“ehmm…gak usah kak, makasih, duluan ya kak”
“oh yauda deh” ada rasa kecewa yang terhembus dari mulut
Rahman, dan Shila bisa merasakan itu.
Saat sampai di halte,
ternyata Rahman belum pulang, dia mengekor di belakang, dia mulai menghampiri
Shila dengan motornya. Dia berhenti tepat di sebelah Shila berdiri.
“loh kakak gak pulang?” tanya
Shila penasaran.
“nunggu kamu pulang dulu
shil” jawaban itu lagi-lagi membuat Shila hanyut, siapapun perempuannya, dia
pasti akan merasa nyaman bila ada sosok laki-laki yang melindunginya. Rahman
memang tahu betul bagaimana memperlakukan seorang perempuan.
“aku udah biasa kali, kakak
pulang aja sana, nanti di cariin loh!”
“gak bakal ada yang nyariin
juga kok”
“loh kok kakak bisa bilang
gitu?”
“gapapa…” jawabnya sangat
singkat, tapi pandangannya masih lurus ke depan.
Keesokan harinya..
Baru sampai di depan kelas,
Shila sudah di hadang oleh tatapan dari sosok yang ada di ujung sana, tepatnya
di arah jarum jam dua belas dari tempat dia berdiri. Sosok itu sedang duduk
sambil memetik senar gitar, tapi entah kenapa, pandangan itu sepertinya
mengarah kepada Shila. Itu terbukti, saat Shila menengok ke arah belakang, tak
ada siapapun, di belakangnya hanya tembok yang di hiasi warna hitam dan abu-abu
di bagian bawahnya. Shila berusaha memalingkan wajahnya. Sosok itu adalah
Muhammad Alfath, dia adalah anak misterius itu, 10 tahun lalu. Shila mulai
melangkahkan kakinya dan buru-buru masuk ke dalam kelas, nafasnya sedikit terengah,
tapi Shila mencoba menenangkan diri, agar tak ada yang benar-benar
memperhatikan raut gelisah di wajahnya.
“kenapa loe?” tanya suara di
belakangnya, ya suara yang tak asing untuk Shila, pemilik suara itu adalah
Rama.
“gapapa kok” Shila mencoba
terlihat tenang, walau sebenarnya tidak.
“nih, elap dulu tuh keringat
loe” sambil menyodorkan sapu tangan bergambar Arsenal, tim sepak bola
kesayangan Rama.
“makasih” Shila pun mulai
meraih sapu tangan itu. Belum sempat Shila mengelap keringat, ternyata Rama
sudah menghilang. Rama memang satu-satunya sahabat Shila yang cuek dan sangat
tertutup untuk masalah percintaannya. Padahal dari segi tampang, Rama memang
bisa di bilang tipe cowok ganteng. Rama juga pintar, selain itu dia juga punya
karisma tersendiri untuk siapapun yang melihatnya. Tapi entah kenapa, sampai
sekarang belum ada satu cewek yang di taksir Rama di sekolah.
Waktu istirahat tinggal
beberapa menit lagi, tapi sudah banyak siswa-siswi yang berhamburan keluar
kelas dan menuju kantin maupun tempat lainnya, yang biasanya ramai di kunjungi
saat jam istirahat. Bel pun berbunyi, hari ini Shila memutuskan, untuk
istirahat pertama ini ingin menghabiskan waktu di perpustakaan. Selain nyaman,
tempatnya pun jauh dari kebisingan maupun celotehan orang-orang.
Shila melangkahkan kakinya
keluar kelas, saat Shila menoleh ke sudut lain, sosok itu… melepas tawanya
untuk pertama kalinya. Dia tak sendiri, dia di temani oleh gadis dengan
tingginya kira-kira standar untuk ukuran model, selain itu gadis itu juga
memiliki paras yang cantik. Benar-benar serasi, tapi di sisi lain, jauh di
relung hatinya ada yang sedang berontak, Shila merasakan kesedihan yang amat
dalam, air mata yang mulai menumpuk dan siap-siap untuk di muntahkan.
Shila berusaha untuk
mengenyahkkan kesedihan ini, tapi nyatanya, Shila tak bisa, Shila tak mampu,
bahkan kesedihan itu sepertinya tak akan habis-habis hingga bel pulang sekolah
berbunyi. Tak Shila sadari, kelas mulai sepi, teman-temannya sudah berhamburan
keluar kelas. Shila mulai membereskan buku-buku dan menarik tas ke dalam
punggungnya. Baru langkah pertama Shila, salah satu lengannya seperti ditarik
oleh seseorang.
“loe kenapa?manyun mulu?”
tanya Rama sambil memandang Shila lekat
“gapapa…” jawab Shila datar
sambil berusaha melepaskan genggaman Rama, tapi Shila tak cukup kuat, Shila
bahkan tak bisa melepaskan genggam Rama. “Rama lepas, aku lagi gak mau
bercanda” sambil membalas tatapannya.
“enggaaa, shil” Rama malah semakin
lekat memandang Shila. “jawab dulu, loe kenapa?” terlihat raut penasaran dalam
diri Rama, tapi terlihat juga raut kesedihan yang semakin banyak memenuhi wajah
Rama.
“aku gapapa, ram…. aku mau
pulang, aku gak enak badan” Shila tak berani memandang Rama saat itu, karena
Shila tahu, Shila akan terlihat sangat berbohong bila menatap mata Rama. Tapi
nyatanya, Rama malah memegang kening Shila.
“loe bohong!apa ini ada
hubungannya sama Alfath?” Rama sedikit membungkuk dan malah memandang Shila
dalam jarak yang sangat amat dekat.
“gak ada” jawab Shila
singkat, tanpa sedikit menoleh dan beradu pandang dengan Rama.
“gue cuek salah, gue peduli
juga salah, terserah loe!” akhirnya Rama melepaskan genggamannya. Dia pun pergi
meninggalkan Shila di tengah ruangan dan udara yang mulai berbagi dingin. Shila
menoleh ke arah Rama, tapi yang Shila lihat hanya punggung Rama, yang makin
lama, malah maikn jauh dan tak terlihat lagi.
Pagi ini seperti biasa
matahari sepetinya malu-malu untuk menunjukkan sinarnya, dan enggan berusaha
untuk menembus awan-awan hitam yang kini mulai menyelimuti langit. Seperti
halnya Shila, yang enggan berusaha untuk mengungkapkan rasa yang hampir satu
dekade terpendam. Hari ini kaki Shila terasa bermalas-malasan untuk melangkah.
Saat sampai di koridor kelas XI, Shila bertemu dengan Bayu, teman sekelasnya,
ada senyum di pipinya, itu terlihat dari lesung pipi yang dia tunjukkan pagi
itu. Tak biasanya, hari ini Shila merasakan Bayu menatapnya sangat lekat. Atau
itu hanya perasaan Shila saja, entahlah…
“pagi shilaaa..” Bayu memulai
pembicaraan
“pagi..” jawab Shila sangat
singkat
“ketus amat loe, gak
biasanya”
“lagi bad mood, bay”
“ama siapa?emak loe?”
“bukan”
“terus ama siape?”
“kepo deh…”
Saat bertemu dengan Bayu,
obrolan yang mereka bicarakan seperti tak ada boringnya, tapi berbeda untuk
hari ini. Biasanya mereka membicarakan hal-hal sepele yang bisa di bicarakan
menjadi hal yang tak sepele. Mulai dari membicarakan soal pelajaran, guru,
bahkan sampai membicarakan tukang pijit keliling. Hebat bukan?ya itulah Shila,
bisa berubah mood kapan saja, apabila sudah bertemu dengan orang yang asik di
ajak ngobrol, seperti Bayu.
Terhitung sudah 2 hari Shila
tak melihat sosok itu, siapa lagi kalau bukan Alfath. Ada rasa rindu, namun
kini malah rasa khawatir yang semakin menjalar dalam tubuhnya. “kak Alfath
kemana ya?kok gak keliatan?” gumamnya dalam hati sambil sesekali memandang ke
arah kelas Alfath, yang berhadapan dengan kelasnya.
“nyari siapa, shil?” suara
Zahra mengagetkan Shila.
“oh…ehmm..ituu…barang kali
ada anak EC yang lewat, mau..mau…... oh iya! mau minta tolong” jawab Shila
sedikit terbata-bata, dalam hatinya, Shila berharap Zahra tak curiga.
“anak EC?bukan anak seni yang
kamu cari?ayolah shil, jangan bohong sama aku?kita kan sama-sama cewek?aku tau
kok siapa yang kamu cari”
“ehm iya sih… kira-kira kak
Alfath kemana ya?kok gak keliatan?biasanya pas jam istirahat suka nongkrong
depan kelas?”
“mungkin dia sakit…”
“sakit?????”
“kan baru mungkin, belum
tentu bener… kayaknya ada yang khawatir nih?upss!” ledek Zahra, tak mereka
sadari, Rama kini telah berada di sebelah Shila.
“ngomongin Alfath?cowok kayak
dia aja di omongin mulu, lagian tuh anak kan lagi gak masuk..” tanya Rama
sambil mengerutkan kening, tapi sikap dinginnya tetap masih melekat dalam wajah
cowok itu.
“gak usah ngurusin orang lain
deh, mending kamu cepet cari cewek ram, Nino aja yang kayak gitu udah punya
pacar..” balas Zahra. Mendengar ucapan Rama tadi, hati Shila seperti sesak dan
di tubruk oleh sesuatu yang sangat amat keras, saat itu juga mimik muka Shila
jadi berbah 180 derajat.
“loe ngeremehin gue?” kata
Rama dengan nada membentak kepada Zahra
“kalo iya, kenapa?berani ama
cewek?dasar cowok pengecut!!” sambil melotot ke arah Rama.
“udah, udah.. malu di liatin
sama yang lain” seru Shila, berusaha melerai pertengkaran Rama dan Zahra. Saat
itu juga Shila buru-buru menarik lengan Zahra dan meninggalkan Rama.
Beberapa hari kemudian…….
Sejak kejadian tersebut, dan
mendengar Rama berbicara tak enak di hati. Shila agak menjaga jarak dengan
salah satu sahabatnya itu, ya! yang dimaksud Shila itu adalah Rama. Bahkan
sudah hampir seminggu, Shila tak berbicara dengan Rama. Sikap cuek dan
dinginnya Rama, memang biasa Shila maklumi, tapi untuk kali ini Shila
benar-benar kecewa dengan salah satu sahabatnya itu.
Saat Shila sedang membaca
buku di perpustakaan, Shila merasakan ada seseorang yang duduk disebelahnya
lalu memegang pundaknya.
“maafin gue shil, gue udah
keterlaluan ama loe, loe mau gak maafin gue?” suara Rama mengagetkan Shila.
“iya, udah aku maafin kok!!”
“beneraannnn???”
“iya ramaaa..”
“oh iya, anak EC yang kelas
10 tuh, yang pake kacamata, kenalin gue ama dia dong?” mendengar ucapan itu,
Shila sangat terkejut, bagaimana tidak?baru kali ini ada cewek yang Rama taksir
di sekolah.
“seriuss nih???tapi ntar
dulu, sekarang yang pake kacamata ada dua..”
“yang dari dulu udah pake
kacamata, gue sebenernya udah suka ama tuh cewek semenjak dia MOS”
“Oh itu…namanya Neta, tapi
kenapa baru cerita sekarang?”
“habis kalian sibuk
masing-masing, gue gak enak mau ceritanya juga”
“hahahaa… berarti sekarang Rama
udah gede dong?kan udah berani naksir cewek”
“maksud loe?kemarin-kemarin
gue belum gede gitu???” Rama semakin mendekat ke arah Shila, tak di sangka,
Rama malah mencubit pipi Shila. Shila pun meringis kesakitan, melihat Shila
seperti itu, Rama sepertinya tak tega dan langsung melepaskan jari-jarinya dari
pipi gadis itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar