Entri Populer

Selasa, 22 Juli 2014

FlashBack… (Faradilla Ardiani)


Shila berlari, berlari di tengah rintiknya hujan, Shila merasakan air yang menyentuh kulitnya seperti jarum yang lancip, yang bisa melukai siapa saja, bila ia sudah jatuh bebas. Shila merasakan sesak yang kini mulai mejalar di tubuhnya, saat Shila tau, sosok itu hatinya tak sendiri. Semilir angin sore, mengingatkan Shila pada 10 tahun lalu, dimana Shila baru memasuki bangku sekolah dasar. Siang hari itu, hari kedua Shila di sekolah, saat perjalanan pulang, belum sempat Shila sampai rumah, hujan telah menghadangnya duluan, Shila berlari semampunya, tapi nyatanya, Shila malah terpeleset dan jatuh di depan genangan air hujan. Baju seragamnya penuh bercak lumpur, sudah terbayangkan amukan mamahnya ketika sampai di rumah, apalagi beliau melihat baju seragamnya kotor. Shila mencoba menghilangkan noda di bajunya, tapi noda itu malah makin terlihat jelas. Tiba-tiba, seperti ada yang menghampirinya, Shila mendongkak, seketika itu juga Shila mengerutkan kening “siapa dia?” batinnya saat itu. Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya, akhirnya Shila meraih lengan itu sambil tersenyum.
      “makasih..” lirih Shila. Tapi anak laki-laki itu tak merespon apapun, sikapnya sangat dingin, dia tak tersenyum sedikitpun. Dia malah pergi sambil mengayuh sepedanya. Shila tersadar dari lamunannya, bahwa dia hanya akan membuat rasa rindu, bila mengingat 10 tahun lalu.
      Tak terasa, perjalanan dengan jalan kaki malah membuatnya sampai di depan gerbang rumah, tapi entah kenapa, rumahnya seperti menunjukkan kesedihan tersendiri. Shila seperti enggan masuk ke dalam rumah itu, padahal rumah ini adalah rumah yang sudah Shila dan keluarganya tempati selama beberapa tahun, mungkin terlalu banyak kenangan, terlalu banyak kegembiraan, terlalu banyak kesedihan yang di tampung oleh rumah ini. Walaupun, dindingnya masih sangat terlihat kokoh.
      Hujan memang sudah reda, dentingan suara adzan pun mulai terdengar, akhirnya Shila putuskan untuk mengulurkan niatnya pulang ke rumah. Tak Shila sadari, langkah kakinya malah membawa Shila ke mushola yang jaraknya tak jauh dari rumah. Shila mengambil air wudhu dan shalat berjama’ah.
       Setelah selesai shalat, Shila seperti enggan beranjak, dia merasakan kesunyiaan, keheningan, dan rasa nyaman yang semakin menguatkannya untuk enggan bangkit dari tempat ini. Shila kembali memainkan angan yang ada dalam benaknya. Terbesit satu angan yang terus berputar-putar, gelak tawa antara Shila dan papahnya, papahnya sering membacakan dongeng sebelum Shila tidur, mengelus rambutnya hingga terlelap. Shila ingin berontak, tapi nyatanya, kehidupannya jauh berbeda dengan yang dulu. Tak lama, Shila mendengar ponselnya berdering. “dari kak rahman, tumben dia sms” gumamnya saat itu.
      Rahman adalah senior Shila di sekolah, sekaligus seniornya juga di ekstakurikuler yang Shila ikuti. Seumur hidupnya, Shila baru kali ini shila di beri tanggungjawab yang sangat berat, yaitu memimpin salah satu organisasi yang ada di sekolah. Shila pun membalas sms dari Rahman.

       Beberapa minggu kemudian….
     Hujan sepertinya tak mau berhenti menghamburkan air, pagi itu Shila memakai jaket ke sekolah, karena Shila tak kuat dengan udara yang dingin, jaket yang Shila pakai ini, pemberian dari tantenya. Walaupun kesan modelnya jadul, tapi Shila tetap menyukai jaket ini.
      “sayang, udah sarapan?” teriak mamah Shila dari arah kamarnya.
      “udah mah” jawab Shila.
      “jangan lupa di minum vitaminnya”
      “iyaaa maahh………” jawab Shila sedikit berteriak dengan nada panjang di akhir kalimatnya.
      “mah, shila berangkat dulu yaa”
      “hati-hati ya, jangan lupa makan siang, pulangnya jangan sore-sore”
      “oke mam!” kata Shila sambil menarik tas biru yang biasa Shila pakai ke sekolah.
      Sesampainya di sekolah,     
      Oh iya, nama lengkap Shila adalah Atshila Wijayanti, tahun ini Shila duduk di kelas XI IPA 2, dan menjabat sebagai ketua ekskul EC (English Club). Di sekolah, Shila mempunyai beberapa sobat yang paling setia. Ada si cuek Rama, si pintar Zahra, si culun Nino dan yang tak ketinggalan si cerewet Hana. Walaupun karakter mereka berbeda-beda, tapi mereka selalu banyak ide untuk membuat Shila tertawa.
“eh, udah pada nonton filmnya raditya dika belum yang cinta brontosaurus?” tanya Hana mengawali pembicaraan pagi itu
      “belum..” jawab Rama singkat.
      “kalo aku sih gak minat, lebih suka yang genrenya romance, kaya refrain” kata Zahra
“kok cinta brontosaurus sih?aneh banget judulnya?berarti nyeritain dinosaurus dong?” tanya Nino
      “gak gitu juga ninoo..” jawab Hana
      “terus kenapa di kasih judul cinta brontosaurus, han?” tanya Nino penasaran
      “tanya aja sonoh ama yang buatnya” kata Hana dengan nada sedikit berteriak
“kenapa nih anak dua pagi-pagi udah ribut?” tanya Shila pada Rama yang sedang asik main PSP dan Zahra yang sedang membaca novel
      “biasaa lah, anak ayam” jawab Rama tanpa menoleh ke sumber suara.
“ayam?emang ayam termasuk dinosaurus ya ram?” Nino menggaruk-garukkan tangannya ke kepala
“terserah loe.. .iye ayam masuk jajaran dinosaurus” kata Rama, lalu kembali asik dengan PSPnya.
      “jajaran?emang ayamnya baris ram?” tanya Nino lagi
“apa no?gue gak denger…” jawab Rama lalu memasangkan headsetnya ke telinga, Rama memang sering menggantungkan headsetnya, katanya untuk jaga-jaga kalau Nino lagi kambuh. Shila hanya bisa tertawa melihat tingkah teman-temannya. 
KRRIIIIIINNNGGGG!!!!...
Bel tanda masuk berbunyi, saatnya jam pelajaran di mulai. Pelajaran pertama hari ini adalah Fisika, segerombolan anak-anak yang tadinya sedang asik duduk di depan kelas, tiba-tiba berhamburan ke dalam kelas, itu pertanda bahwa ada guru yang akan datang. 
      “ada pak Udin tah, dit?” tanya Diana kepada Adit yang sedari berangkat sekolah udah nongrong di depan kelas.
      “iyaa..” sambil meletakkan tas ke mejanya “pe-er udah belum?” tanya Adit kepada seisi kelas.
      “oh iyaa, gue lupa!” “hahh?pe-er yang mana?” “emang ada pe-er?” jawaban bermacam-macam pun bertubi-tubi datang untuk Adit. “udah dong, makanya kalau punya pe-er tuh di kerjain” jawab seorang gadis yang baru saja masuk, dia adalah Yura. Yura memang pintar, cantik, rajin mengerjakan pe-er, tapi sayangnya setiap akan ulangan, dia selalu menyiapkan contekan, selain itu dia juga terkenal pelit, mungkin itu yang membuat Shila tak menyukai kepribadian dan agak menjaga jarak dengan gadis itu.
      Hari ini pelajaran di tutup oleh kelas dari ibu Nika, beliau adalah guru Bahasa Indonesia di kelas Shila. Logat jawanya yang medok, sering kali menjadikan bahan gurauan di kelas. Walau begitu, beliau tak pernah marah dengan tingkah muridnya yang kadang membuatnya kesal.
      Shila menyusuri koridor kelas XI dan melewati koridor kelas XII, Shila merasakan ada yang memegang pundak sebelah kiri. Saat shila menoleh, ternyata Rahman. Seperti biasa, dia selalu menebar senyum. Sikapnya yang hangat kepada setiap perempuan sering kali membuat Shila terenyuh, dan hanyut. Sebenarnya, saat pertama kali bertemu Rahman, Shila pernah menaruh rasa padanya. Tapi Shila buru-buru menghilangkan rasa itu, saat Shila mulai tau, Rahman masih ada ikatan keluarga dekat dengannya.
      “hai..” sapa Rahman
      “hai kak!”
      “sendiri aja?oh iya, gimana di eskul?”
      “sama kakak jadi berdua, gak gimana-gimana kak, mudah-mudahan lebih baik dari sebelumnya”
      “harus ituu!” kata Rahman sambil memberikan jempol kanannya untuk Shila. Sedikit keheningan menyapu obrolan Shila dan Rahman di siang hari itu. Shila sedikit melihat raut kesedihan di dalam diri Rahman, mungkin ini ada hubungannya dengan kabar burung yang Shila dengar dari teman-temannya. Shila ingin mencoba memastikan kebenarannya, tapi sepertinya Shila belum cukup energi untuk membuka mulut duluan tentang masalah pribadi seseorang.
“pulang naik apa, shil?” suara Rahman mengagetkan Shila
“biasa kak, naik angkot” jawab Shila
“mau bareng gak?”
“ehmm…gak usah kak, makasih, duluan ya kak”
“oh yauda deh” ada rasa kecewa yang terhembus dari mulut Rahman, dan Shila bisa merasakan itu.
      Saat sampai di halte, ternyata Rahman belum pulang, dia mengekor di belakang, dia mulai menghampiri Shila dengan motornya. Dia berhenti tepat di sebelah Shila berdiri.
      “loh kakak gak pulang?” tanya Shila penasaran.
      “nunggu kamu pulang dulu shil” jawaban itu lagi-lagi membuat Shila hanyut, siapapun perempuannya, dia pasti akan merasa nyaman bila ada sosok laki-laki yang melindunginya. Rahman memang tahu betul bagaimana memperlakukan seorang perempuan.
      “aku udah biasa kali, kakak pulang aja sana, nanti di cariin loh!”
      “gak bakal ada yang nyariin juga kok”
      “loh kok kakak bisa bilang gitu?”
      “gapapa…” jawabnya sangat singkat, tapi pandangannya masih lurus ke depan.


      Keesokan harinya..
      Baru sampai di depan kelas, Shila sudah di hadang oleh tatapan dari sosok yang ada di ujung sana, tepatnya di arah jarum jam dua belas dari tempat dia berdiri. Sosok itu sedang duduk sambil memetik senar gitar, tapi entah kenapa, pandangan itu sepertinya mengarah kepada Shila. Itu terbukti, saat Shila menengok ke arah belakang, tak ada siapapun, di belakangnya hanya tembok yang di hiasi warna hitam dan abu-abu di bagian bawahnya. Shila berusaha memalingkan wajahnya. Sosok itu adalah Muhammad Alfath, dia adalah anak misterius itu, 10 tahun lalu. Shila mulai melangkahkan kakinya dan buru-buru masuk ke dalam kelas, nafasnya sedikit terengah, tapi Shila mencoba menenangkan diri, agar tak ada yang benar-benar memperhatikan raut gelisah di wajahnya.
      “kenapa loe?” tanya suara di belakangnya, ya suara yang tak asing untuk Shila, pemilik suara itu adalah Rama.
      “gapapa kok” Shila mencoba terlihat tenang, walau sebenarnya tidak.
      “nih, elap dulu tuh keringat loe” sambil menyodorkan sapu tangan bergambar Arsenal, tim sepak bola kesayangan Rama.
      “makasih” Shila pun mulai meraih sapu tangan itu. Belum sempat Shila mengelap keringat, ternyata Rama sudah menghilang. Rama memang satu-satunya sahabat Shila yang cuek dan sangat tertutup untuk masalah percintaannya. Padahal dari segi tampang, Rama memang bisa di bilang tipe cowok ganteng. Rama juga pintar, selain itu dia juga punya karisma tersendiri untuk siapapun yang melihatnya. Tapi entah kenapa, sampai sekarang belum ada satu cewek yang di taksir Rama di sekolah.
      Waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi, tapi sudah banyak siswa-siswi yang berhamburan keluar kelas dan menuju kantin maupun tempat lainnya, yang biasanya ramai di kunjungi saat jam istirahat. Bel pun berbunyi, hari ini Shila memutuskan, untuk istirahat pertama ini ingin menghabiskan waktu di perpustakaan. Selain nyaman, tempatnya pun jauh dari kebisingan maupun celotehan orang-orang.
      Shila melangkahkan kakinya keluar kelas, saat Shila menoleh ke sudut lain, sosok itu… melepas tawanya untuk pertama kalinya. Dia tak sendiri, dia di temani oleh gadis dengan tingginya kira-kira standar untuk ukuran model, selain itu gadis itu juga memiliki paras yang cantik. Benar-benar serasi, tapi di sisi lain, jauh di relung hatinya ada yang sedang berontak, Shila merasakan kesedihan yang amat dalam, air mata yang mulai menumpuk dan siap-siap untuk di muntahkan.
      Shila berusaha untuk mengenyahkkan kesedihan ini, tapi nyatanya, Shila tak bisa, Shila tak mampu, bahkan kesedihan itu sepertinya tak akan habis-habis hingga bel pulang sekolah berbunyi. Tak Shila sadari, kelas mulai sepi, teman-temannya sudah berhamburan keluar kelas. Shila mulai membereskan buku-buku dan menarik tas ke dalam punggungnya. Baru langkah pertama Shila, salah satu lengannya seperti ditarik oleh seseorang.
      “loe kenapa?manyun mulu?” tanya Rama sambil memandang Shila lekat
      “gapapa…” jawab Shila datar sambil berusaha melepaskan genggaman Rama, tapi Shila tak cukup kuat, Shila bahkan tak bisa melepaskan genggam Rama. “Rama lepas, aku lagi gak mau bercanda” sambil membalas tatapannya.
      “enggaaa, shil” Rama malah semakin lekat memandang Shila. “jawab dulu, loe kenapa?” terlihat raut penasaran dalam diri Rama, tapi terlihat juga raut kesedihan yang semakin banyak memenuhi wajah Rama.
      “aku gapapa, ram…. aku mau pulang, aku gak enak badan” Shila tak berani memandang Rama saat itu, karena Shila tahu, Shila akan terlihat sangat berbohong bila menatap mata Rama. Tapi nyatanya, Rama malah memegang kening Shila.
      “loe bohong!apa ini ada hubungannya sama Alfath?” Rama sedikit membungkuk dan malah memandang Shila dalam jarak yang sangat amat dekat.
      “gak ada” jawab Shila singkat, tanpa sedikit menoleh dan beradu pandang dengan Rama.
      “gue cuek salah, gue peduli juga salah, terserah loe!” akhirnya Rama melepaskan genggamannya. Dia pun pergi meninggalkan Shila di tengah ruangan dan udara yang mulai berbagi dingin. Shila menoleh ke arah Rama, tapi yang Shila lihat hanya punggung Rama, yang makin lama, malah maikn jauh dan tak terlihat lagi.
      Pagi ini seperti biasa matahari sepetinya malu-malu untuk menunjukkan sinarnya, dan enggan berusaha untuk menembus awan-awan hitam yang kini mulai menyelimuti langit. Seperti halnya Shila, yang enggan berusaha untuk mengungkapkan rasa yang hampir satu dekade terpendam. Hari ini kaki Shila terasa bermalas-malasan untuk melangkah. Saat sampai di koridor kelas XI, Shila bertemu dengan Bayu, teman sekelasnya, ada senyum di pipinya, itu terlihat dari lesung pipi yang dia tunjukkan pagi itu. Tak biasanya, hari ini Shila merasakan Bayu menatapnya sangat lekat. Atau itu hanya perasaan Shila saja, entahlah…
      “pagi shilaaa..” Bayu memulai pembicaraan
      “pagi..” jawab Shila sangat singkat
      “ketus amat loe, gak biasanya”
      “lagi bad mood, bay”
      “ama siapa?emak loe?”
      “bukan”
      “terus ama siape?”
      “kepo deh…”
      Saat bertemu dengan Bayu, obrolan yang mereka bicarakan seperti tak ada boringnya, tapi berbeda untuk hari ini. Biasanya mereka membicarakan hal-hal sepele yang bisa di bicarakan menjadi hal yang tak sepele. Mulai dari membicarakan soal pelajaran, guru, bahkan sampai membicarakan tukang pijit keliling. Hebat bukan?ya itulah Shila, bisa berubah mood kapan saja, apabila sudah bertemu dengan orang yang asik di ajak ngobrol, seperti Bayu.
      Terhitung sudah 2 hari Shila tak melihat sosok itu, siapa lagi kalau bukan Alfath. Ada rasa rindu, namun kini malah rasa khawatir yang semakin menjalar dalam tubuhnya. “kak Alfath kemana ya?kok gak keliatan?” gumamnya dalam hati sambil sesekali memandang ke arah kelas Alfath, yang berhadapan dengan kelasnya.   
      “nyari siapa, shil?” suara Zahra mengagetkan Shila.
      “oh…ehmm..ituu…barang kali ada anak EC yang lewat, mau..mau…... oh iya! mau minta tolong” jawab Shila sedikit terbata-bata, dalam hatinya, Shila berharap Zahra tak curiga.
      “anak EC?bukan anak seni yang kamu cari?ayolah shil, jangan bohong sama aku?kita kan sama-sama cewek?aku tau kok siapa yang kamu cari”
      “ehm iya sih… kira-kira kak Alfath kemana ya?kok gak keliatan?biasanya pas jam istirahat suka nongkrong depan kelas?”
      “mungkin dia sakit…”
      “sakit?????”
      “kan baru mungkin, belum tentu bener… kayaknya ada yang khawatir nih?upss!” ledek Zahra, tak mereka sadari, Rama kini telah berada di sebelah Shila.
      “ngomongin Alfath?cowok kayak dia aja di omongin mulu, lagian tuh anak kan lagi gak masuk..” tanya Rama sambil mengerutkan kening, tapi sikap dinginnya tetap masih melekat dalam wajah cowok itu.
      “gak usah ngurusin orang lain deh, mending kamu cepet cari cewek ram, Nino aja yang kayak gitu udah punya pacar..” balas Zahra. Mendengar ucapan Rama tadi, hati Shila seperti sesak dan di tubruk oleh sesuatu yang sangat amat keras, saat itu juga mimik muka Shila jadi berbah 180 derajat.
      “loe ngeremehin gue?” kata Rama dengan nada membentak kepada Zahra
      “kalo iya, kenapa?berani ama cewek?dasar cowok pengecut!!” sambil melotot ke arah Rama.
      “udah, udah.. malu di liatin sama yang lain” seru Shila, berusaha melerai pertengkaran Rama dan Zahra. Saat itu juga Shila buru-buru menarik lengan Zahra dan meninggalkan Rama.

      Beberapa hari kemudian…….
      Sejak kejadian tersebut, dan mendengar Rama berbicara tak enak di hati. Shila agak menjaga jarak dengan salah satu sahabatnya itu, ya! yang dimaksud Shila itu adalah Rama. Bahkan sudah hampir seminggu, Shila tak berbicara dengan Rama. Sikap cuek dan dinginnya Rama, memang biasa Shila maklumi, tapi untuk kali ini Shila benar-benar kecewa dengan salah satu sahabatnya itu.
      Saat Shila sedang membaca buku di perpustakaan, Shila merasakan ada seseorang yang duduk disebelahnya lalu memegang pundaknya.
      “maafin gue shil, gue udah keterlaluan ama loe, loe mau gak maafin gue?” suara Rama mengagetkan Shila.
      “iya, udah aku maafin kok!!”
      “beneraannnn???”
      “iya ramaaa..”
      “oh iya, anak EC yang kelas 10 tuh, yang pake kacamata, kenalin gue ama dia dong?” mendengar ucapan itu, Shila sangat terkejut, bagaimana tidak?baru kali ini ada cewek yang Rama taksir di sekolah.
      “seriuss nih???tapi ntar dulu, sekarang yang pake kacamata ada dua..”
      “yang dari dulu udah pake kacamata, gue sebenernya udah suka ama tuh cewek semenjak dia MOS”
      “Oh itu…namanya Neta, tapi kenapa baru cerita sekarang?”
      “habis kalian sibuk masing-masing, gue gak enak mau ceritanya juga”
      “hahahaa… berarti sekarang Rama udah gede dong?kan udah berani naksir cewek”
      “maksud loe?kemarin-kemarin gue belum gede gitu???” Rama semakin mendekat ke arah Shila, tak di sangka, Rama malah mencubit pipi Shila. Shila pun meringis kesakitan, melihat Shila seperti itu, Rama sepertinya tak tega dan langsung melepaskan jari-jarinya dari pipi gadis itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar