Entri Populer

Selasa, 22 Juli 2014

Cerpen-Admire Him! (Faradilla Ardiani)


ADMIRE HIM!
KRING … Bel masuk membangunkan lamunanku, seketika itu juga tanganku seperti ditarik oleh seseorang, ya! Dia temanku, namanya Rini. Oh ya! Namaku Dilla Rezky Oktaviani salah satu siswi di SMA 1 Harapan. Sekarang aku duduk di kelas XI IPA 4. Di tempatku bernaung mencari ilmu, banyak kabar burung yang beredar, bahwa anak IPA selalu menjadi bahan perdebatan dengan anak IPS.
Menurutku, anak IPA ataupun anak IPS sama saja, yang membedakan hanya potensi yang ada di dalm diri kita. Entah apa yang menjadi perdebatan diantara mereka sampai saat ini, mungkin ada masalah pribadi yang terseret-seret hingga ke sekolah. Menurutku. Hari ini memang membosankan, hari dimana telah diberi libur panjang dan esoknya harus sudah berjejer rapih sambil memberi hormat kepada sang merah putih yang sedang di tarik maupun di ulur untuk sampai ke puncak tiangnya. Kurasa anak yang lain pun berpikir begitu.
        “ayo dil ke lapangan” kata Rini yang mulai meraih pergelangan tanganku.
“ayoo..” kataku sembari memberikan seulas senyum padanya.
 “ ngomong-ngomong selamat ya? Bisa dapat ranking 1, di tunggu loh traktirannya” kata Rini.
“ Insya Allah, alhamdulilah Allah masih memberikan kepercayaan sama aku di semester ini” jawabku sambil melangkahkan kaki menuju lapangan.
“bercanda kok! Udah gak usah repot-repot, kamu kaya gak tau aku aja!”.
 Gelak tawa pun tak terhindarkan diantara kami berdua.
        Tak lama, upacara pun akan di mulai, dan hari ini yang mendapatkan giliran adalah dari rombongan kelas XII IPA 1. Mataku mulai jelalatan kemana-mana, kuperhatikan orang-orang di sekelilingku, tapi tak kutemukan yang aku cari, bahkan batang hidungnya pun tak terlihat. Sekilas ku lihat sosok yang berlari di lorong kelas sambil memakai dasi abu-abunya. Ku tersadar, dia yang aku cari.
 Ku perhatikan lekat-lekat, nafasnya sedikit terengah-engah, tapi dia masih sempat memberikan senyum di hadapan kawannya. Hatiku bergumam “senang melihatmu tersenyum, sederhana itu rasaku”, seulas senyum pun terukir manis di bibirku.
“mulai deh senyum-senyum sendiri” kata Rini yang saat itu sambil menyenggol tangan kananku.
 “apa sih, rin?” sambil mengangkat alis sebelah kananku.
 “gak usah pura-pura deh, akhirnya ketos datang, senang kan dirimu?” sambil mengejekku dan menjulurkan lidahnya.
”tau aja!” jawabku dengan singkat.
“udah ketebak kali, aku kenal kamu dari orok”.
“hahaa.. bisa aja nih anak!” sambil mencubit pipi kirinya.
“husshhhhh….!!” Kata teman di belakangku sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir mungilnya.
        Upacara hari ini kurang khidmat, bagaimana tidak? Jejeran anak kemarin sore yang berada di sebelah kananku dan terlihat masih sedikit ingusan itu, mulutnya tak mau berhenti berceloteh. Bukan hanya satu orang, tapi hampir sebagian kelas X yang berargumen tak penting dengan teman di sebelahnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Jejeran guru pun tak berbeda jauh dengan tingkah muridnya, seperti pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.
Dan sering sekali kutemukan pahlawan tanpa tanda jasa ini, bermain dengan ponselnya saat upacara berlangsung, bahkan ada yang sampai mengangkat telepon, dengan nada dering yang terdengar kemana-mana. Sungguh ironis, lalu bagaimana negara ini akan maju? Kalau si pemberi ilmunya malah menyuapi muridnya dengan contoh yang tak baik? Pembina upacara kali ini adalah ibu Nisa, yang sekaligus walikelas dari kelas XII IPA 1. Dalam pidatonya, beliau sempat berbicara tentang “out off the box” atau dapat di artikan dalam kamus bahasa Indonesia yang berarti “berbeda dengan yang lain”.
Maksudnya adalah, mempunyai pemikiran atau ide yang berbeda dengan orang lain. Karena, orang-orang seperti itulah yang kini dicari oleh negara-negara maju. Aku sangat khusyuk memperhatikan setiap gerak-gerik mulut ibu Nisa saat membekali ilmu yang sangat bermanfaat untukku. Tak lama, upacara pun selesai. Saat aku sibuk dengan pikiranku sambil melangkahkan kakiku, tiba-tiba Rini mulai mengagetkanku.
“anter ke kantin yuk?” sambil menggandeng tanganku
“mau beli apa?” Tanya ku dengan muka melas
“beli minum dulu, sebentar ajaa…ayolah”
“iya iyaa, bawel”
Ketika sampai di kantin, aku berpapasan dengan salah satu kakak kelas yang tak asing bagiku, dia berkulit putih dengan tinggi semampai. Terlihat seberkas amarah di matanya saat bertemu denganku. Namanya Rina, bisa di bilang dia adalah teman special dari orang yang aku kagumi di sekolah ini. Kelasnya pun bertetanggan dengan kelas “si ketos bule” , begitulah aku menyebut orang yang pertama kali aku kagumi di sekolah ini, dengan wibawa dan tanggungjawab yang dia pamerkan saat pertama kali aku bertemu dengannya. Kak rina seperti sedang memperhatikanku dari jauh dengan tatapan tajamnya.
“mau beli kue atau apa gitu?” Rini mengagetkanku sambil memilih kue-kue yang tertata rapih di meja.
“eeeenggggaa deh… udah belum?” jawabku dengan terbata-bata dan sedikit gemetaran.
“sebentarrr…” kata Rini sambil mengambil rupiah dalam saku bajunya.
“lamaaaa… ayooo!!!” kataku dengan nada agak keras dan sambil menarik pergelangan tangan kanan Rini yang dihiasi jam tangan berwarna hitam. Rini memang tomboy, tapi walaupun begitu, dalam urusan ngasih solusi, dialah jagonya.
Selamat menyambut terang!! Teriakku dalam hati sambil menguap. Seperti biasa, sebelum menemui kamar mandi, aku selalu menyempatkan mematikan alarm di jam bekerku yang selalu setia membangunkanku tepat waktu. Tak jarang, aku masih sering bermalas-malasan saat terbangun, terkadang aku sering tertidur lagi selama beberapa menit. Aku bangkit dari tidurku, kubuka tirai kamar jendelaku. Langit masih terlihat muram, matahari belum menampakkan wajahnya, yang kutemui hanya ayam-ayam yang berteriak dan suara dentingan adzan.
Pagi ini, aku menyempatkan diri untuk sejenak duduk di mulut jendela kamarku. Ku hirup udara dalam-dalam dan kulepaskan perlahan. Aku sangat menikmati suguhan udara pagi ini, sambil memeluk kedua lututku. Tiba-tiba terbesit angan tentang sosok yang aku kagumi, aku mulai bermain dalam khayalanku. Cukup dekat dengannya saja, aku sudah amat sangat senang. Aku hanyut dalam khayalanku, dan tak kusadari saat itu juga seekor nyamuk meminta sumbangan darahku dan mulai mendekati kulitku. Aku terkejut, buyar sudah khayalan yang aku susun di pagi itu.
Sesampainya di sekolah, bel masuk pun berbunyi. Murid-murid berlarian masuk ke kelasnya masing-masing. Peraturan di sekolah ini memang sangat ketat, pada saat jam pelajaran tidak boleh ada siswa yang masih berkeliaran di halaman sekolah tanpa alasan yang kuat, belum lagi harus berhadapan dengan wakasek kesiswaan sekolah ini. Beliau terlihat sangat cantik hari ini dengan jilbab hijau mudanya dan bros capung di pundak kirinya, dan di tambah dengan moodnya yang terlihat sangat baik.
“selamat pagi anak-anak” sapa ibu Intan
“selamat pagi, buuu…” jawab anak-anak dengan serempak.
“buku pr nya nanti di kumpulkan, lalu buka halaman 124 di buku paket, ada yang tau tidak apa sih artikel itu?”
Aku pun langsung mengangkat tangan kananku, tanpa pikir panjang, aku langsung membuka mulutku.
“menurut saya, artikel adalah karangan yang berisi analisis dan menjelaskan tentang bagaimana suata perstiwa dapat terjadi”
“iya, benar apa yang dikatakan Dilla. Apa ada yang berpendapat lain?”
“buuu….” Erwin langsung mengangkat tangannya
“iya silahkan’ jawab ibu Intan
“menurut saya, artikel itu karangan yang berisi informasi buu…” kata Erwin dengan penuh semangat”
Erwin adalah saingan terberatku di kelas, dia mempunyai ego yang sangat besar, dia seperti tak mau kalah. Dia juga selalu bersikap dingin kepadaku. Mungkin karena dia merasa ada yang menyaingi prestasinya di kelas. Saat bersamaan, ponsel ibu Intan berbunyi. Beliau langsung mengangkat telepon, raut muka beliau langsung berubah pucat. Entah dari siapa telepon tersebut. Suasana kelas menjadi riuh dengan ibu Intan yang mengangkat telepon di luar kelas.
Tapi, aku tak ingin ikut rebut seperti teman-temanku, karena aku masih di bayang-banyangi penasaran, siapa yang menelepon ibu Intan sampai membuat matanya sembab. Di sudut lain, aku tak tau kalau ada yang mulai memperhatikanku. Tak lama, ibu Intan menutup teleponnya, dan memasuki ruang kelas, seketika itu juga suasana kelas menjadi hening kembali. Ibu Intan memasang muka sangat tegar di depan anak didiknya, beliau tau profesionalismenya menjadi seorang pendidik sedang di uji saat ini.
“ibu ada keperluan, tugas untuk kalian adalah membuat artikel, paling telat di kumpulkan saat jam pulang sekolah hari ini, temanya bebas, terserah mau kalian buat berapa lembar, lalu kumpulkan di meja ibu, ibu tinggal dulu, jangan keluar kelas sebelum jam istirahat”
“iyaaa buuu…” jawab anak-anak
Ibu Intan pun akhirnya pergi meninggalkan kelas, dan anganku sibuk oleh beberapa jenis pertanyaan tentang ibu Intan. Aku mulai membuat artikel tentang : berburu beasiswa yang baik.
saat aku mulai menulis isi artikel yang akan aku buat, tak kusadari, ada yang sedang memperhatikanku. Bel istirahat bebunyi. Aku mengambil novelku dari dalam tas dan hendak mengembalikannya ke perpustakaan, aku pun bangkit dari dudukku. Perpustakaan memang tak jauh dari kelasku, hanya berbatas dua kelas sebagi pemisah. Saat menuju perpustakaan, tali jam tanganku terlepas, aku langsung memperbaikinya tanpa melihat kea rah jalanku, tiba-tiba bahuku seperti tertubruk oleh bahu seseorang. Jam tanganku jatuh ke lantai, kaca pelindungnya pecah dan berceceran dimana-mana, aku pun langsung memungut jam tanganku. Saat itu terdengar suara yang tak asing bagiku.
        “maaf, nanti aku ganti jam tangannya, oh iya ini novelnya” sambil menyodorkan novel yang hendak aku kembalikan ke perpustakaan. Karena diliputi rasa penasaran, kulihat wajah orang tersebut. Tak di sangka, si ketos bule itu menabrakku. Oh ya! Nama lengkapnya Muhammad Fikry Al-Ghany. Tapi entah kenapa ku lebih suka memanggilnya si ketos bule. Mungkin karena dia memiliki kulit yang putih dan jabatannya sebagai ketua osis di sekolah.
        “oh iya gapapa kak, gak usah, maaf juga” jawabku dengan keringat mulai bercucuran di sekitar tanganku.
        “bener nih? Yakin gak mau aku ganti?” keningnya berkerut, tanda sedikit heran
        “iya kak gapapa kok, sama-sama salah”
        “jadi gak enak, gini aja deh, nanti aku belikan jam tangan sebagai ganti, terserah nanti mau adik pakai atau tidak”
        “ehm… yasudah, terserah kakak aja, permisi kak” jawabku sambil meninggalkan dan sesekali ku menengok ke belakang, tapi sosoknya sudah berjalan dari tempat kami berdiri tadi.
        Sukmaku berteriak, entah mengapa hari ini tugas-tugas sekolah memenuhi pikiranku. Padahal dalam pikiranku, bukan hanya terisi oleh tugas-tugas sekolah saja, tetapi juga terisi oleh beban dan masalah yang akhir-akhir ini mengisi lamunanku. Kedua orangtuaku sudah bercerai 2 bulan yang lalu, tpat di bulan saat aku merayakan pertambahan umurku. Mamaku berselingkuh dengan pria lain, dan kini aku tinggal bersama papaku.
Malam semakin larut, tapi aku masih duduk dan bergulat dengan buku-buku di meja belajarku, Aku menguap, tak lama aku tertidur pulas di atas buku yang sedang aku baca.
“nak, pindah tidurnya, jangan di sini” kata papa sambil menggoyang-goyang pundakku
        “iyaa pah” jawabku dalam keadaan sedikt tak sadar, aku berjalan menuju tempat tidurku. Kurebahkan tubuhku, papa mematikan lampu kamarku sambil keluar dari kamarku.
        Entah mengapa hari ini aku masih mengantuk, bahkan sampai aku bertemu teman-temanku di sekolah. Saat aku melangkahkan kakiku di lorong kelas, aku bertemu pak Toni, guru Fisikaku. Beliau memintaku untuk mewakili sekolah di tingkat nasional dalam matapelajaran Fisika. Pelajaran yang sungguh menakutkan dan di jauhi oleh banyak anak-anak di sekolah. Bagaimana tidak? Ribuan rumus di permainankan di dalam pelajaran ini.
        “Dilla, bapak ingin kamu mengikuti olimpiade Fisika tingkat nasional, nanti akan bapak berikan contoh-contoh soalnya, sebagai latihan kamu di rumah”
        “oh iya pak, terimakasih sebelumnya”
        “yasudah, bapak ke kantor dulu, persiapkan untuk lombanya”
        “baik, pak!”
        Sesampainya di kelas, Rini sudah menghadangku di depan pintu kelas. Dia sepertinya ingin memberitahuku sesuatu, Rini pun langsung menarik tanganku.
        “tau gak siapa tadi yang mencarimu?”
Aku secepat mungkin menggeleng, dan teringat sesuatu “pak Toni??” tanyaku
        “bukan-bukan! Sseorang yang kamu anggap special di sekolah ini” jawab Rini
        “kak Fikri??” tanyaku dengan nada pelan
        “iyaaa… si ketos bule itu nyari kamu loh! Keajaiban bukan?”
        “hehe.. iyaa keajaiban” kataku dengan ekspresi datar, Rini pun menyadari itu
        “kamu kenapa? Sakit? Datar banget ekspresinya.. kenapa sobat?”
        Aku menceritakan tentang bagaimana si ketos bule itu bisa mencariku. Aku memang senang, bahkan sangat senang. Sampai-sampai aku ingin memeluk pohon mangga yang ada di taman sekolah.
        Saat istirahat, aku sengaja tidak pergi ke kantin. Aku lebih memilih pergi ke perpustakaan, sambil berlatih dengan soal-soal yang ada di buku Fisika peganganku. Kurasakan keheningan di tempat ini, nyaman, tanpa ada yang mengganggu. Aku memilih duduk di dekat jendela, agar bisa menikmati hamparan sawah, dan itung-itung relaksasi dan menjernihkan lagi pikiranku. Ku rasa, pundukku seperti di pegang oleh tangan seseorang, ku memengok ke arahnya.
        “hai adik! Lagi sibuk ya? Oh ya, aku mencarimu mengeilingi sekolah ini” katanya sambil memberikan senyum ke arahku dan menarik kursi, lalu duduk tepat di sebelah kananku.
        “maaf kak, tadi pagi temanku juga bilang, kakak mencariku, ada apa kak?”
        “ini…. Seperti janjiku” sambil menyodorkan kotak hitam nan mungil
        “itu apa kak?” keningku berkerut
        “pengganti jam tanganmu, tapi tak sebagus punyamu waktu itu” jelasnya sambil membuka tutup kotak tersebut.
        “makasih kak, di sangka waktu itu kakak bercanda?”
        “emang aku ada tampang pelawak gitu?”
        “gak juga sih”
        “terussss???”
        “nabrakk…..”
        Kami pun berbagi tawa, dan sempat dimarahi ibu Lala, penjaga perpustakaan. Bel berbunyi, kami bangkit dari duduk dan berpisah,di mulut pintu perpustakaan. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya, bersenda gurau dengan orang yang aku kagumi.Beberapa minggu kemudian, Olimpiada Fisika sudah di depan mata. Dan hari ini aku berangkat ditemani ibu Intan, karena Pak Toni sedang sibuk memberi materi dalam pengayaan. Aku masih sempat melihat jam tangan pemberian kak Fikry, yang kini melilit di pergelangan tanganku, bahkan saat aku mengisi lembar jawaban, sering ku perhatikan jam tangan ini lekat-lekat, hingga terdengar setiap detikkan jarum jamnya.
        Berharap, ada energy positif yang di transfer dan sedikit mengurangi kecemasanku dalam memperoleh hasilnya nanti. Hasilnya akan di umumkan hari ini.
        “juara harapan III, Dilla Rezky Oktaviani dari SMA 1 Harapan, kepada ananda dipersilahkan untuk mengambil piala” Seru MC saat itu.
        Sontak itu membuatku kaget, dan tak henti ku ucapkan syukur pada-Nya.
        Esok harinya di sekolah, Rini berlari ke arahku, nafasnya kurang teratur, keringatnya mengumpul di kening dan hidungnya.
        “ada apa, Rin?”
        “kamu tau? Kak Fikry tadi nembak kak Rina di lapangan basket” Rini memperjela.
        “nembak? Di depan orang banyak?” tanyaku dengan nada semakin pelan.
        Rini pun langsung memelukku. Tetesan air mata mulai penuhi pipiku. “sabar, dil, mungkin saja dia bukan untukmu”
        Aku pun melepaskan pelukkan Rini, mengangguk, lalu cepat-cepat menghapus air mataku.
        Malam ini, bulan terlihat sangat senang ditemani bintang-bintang. Berbeda sekali denganku yang sedang muram. Kurasakan semilir angin malam yang mulai menyapu kulitku, sambil mendengarkan paduan suara kodok-kodok, tanda sebentar lagi akan turun hujan. Papa mengagetkanku, sepertinya ia tahu betul apa yang putrinya sedang rasakan.
        “seperti bintang, kita hanya bisa memandang indahnya dari kejauhan, tapi tak bisa kita dengan mudah untuk memilikinya” kata Papa sambil memandang bintang-bintang di langit sambil memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celananya.
        “nak, papa tahu bagaimana perasanmu saat ini, karena sifat papa ada dalam dirimu, mungkin dia bukan yang akan Allah berikan untukmu, Allah sudah mempersiapkan yang lebih baik dari dia, untuk anak papa yang paling papa sayangi”
        “iyaa pah” jawabku sambil memberikan senyum pada papa. Aku memeluk papa, sambil memandang bintang-bintang di langit. Hatiku berkata “dia bukan untukku, tapi yang bukan dia, mungkin untukku”
        Mengagumi seseorang itu, tak harus memiliki se utuhnya, cukup tau dia orang yang kamu kagumi, dan biarkan dengan sendirinya, dia mengisi ruang hari-harimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar