Langit siang
sepertinya sedang tidak mau bersahabat. Sedih? Mungkin. Aku bukan peramal yang
bisa menerka akan ada kejadian apa setelah ini. Sesekali aku mendongkak, tapi
kata mamah, itu tak baik. Jangan selalu liat ke atas, di tengah perjalan pasti
akan ada lubang yang akan menghampirimu. Itu menurut senja. Satu kalimat itulah
yang kini menjadi bayangan di tengah perjalanan, yang saat ini bisa
menghampiriku kapan saja.
Supernova versi
Ranah 3 Warna. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya, ketika kedua genre
tersebut saling menyatu dan saling melengkapi.
Terkecuali jika Madre versi Supernova, mungkin sedikit lebih nyambung.
Hari ini, aku
ingin sekali berceloteh panjang lebar. Menceritakan semua rentetan kata yang
muncul. Aku juga bisa melontarkannya hingga tak henti-henti, bahkan dengan
berbagai macam kata yang kadang sulit untuk di pahami. Tapi inilah aku, aku
yang sekarang, yang sering bergulat dengan kata-kata manis, berceloteh tak
penting, hingga ngawur kesana-kemari. Semenjak memakai putih abu-abu, kurasakan
banyak perubahan yang mendalam. Mulai dari tulisan hingga memaknai setiap
kejadian yang secara spontan aku tuangkan kedalam barisan kalimat. Mereka tak
sadar, padahal mereka sudah tertipu dengan apa yang sebenarnya aku tulis.
Menurut sebagian orang, tulisanku egois. Tapi memang itulah penulis, penulis
itu egois, penulis bisa saja membeberkan kata yang kadang salah bahkan sulit
dipahami oleh sebagian kalangan. Maka dari itu, berhati-hatilah kalian dalam memaknai berbagai
tulisan.
Calypso.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar