Entri Populer

Kamis, 24 Juli 2014

Young Writer ♫


  Langit siang sepertinya sedang tidak mau bersahabat. Sedih? Mungkin. Aku bukan peramal yang bisa menerka akan ada kejadian apa setelah ini. Sesekali aku mendongkak, tapi kata mamah, itu tak baik. Jangan selalu liat ke atas, di tengah perjalan pasti akan ada lubang yang akan menghampirimu. Itu menurut senja. Satu kalimat itulah yang kini menjadi bayangan di tengah perjalanan, yang saat ini bisa menghampiriku kapan saja.
Supernova versi Ranah 3 Warna. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya, ketika kedua genre tersebut saling menyatu dan saling melengkapi.  Terkecuali jika Madre versi Supernova, mungkin sedikit lebih nyambung.
  Hari ini, aku ingin sekali berceloteh panjang lebar. Menceritakan semua rentetan kata yang muncul. Aku juga bisa melontarkannya hingga tak henti-henti, bahkan dengan berbagai macam kata yang kadang sulit untuk di pahami. Tapi inilah aku, aku yang sekarang, yang sering bergulat dengan kata-kata manis, berceloteh tak penting, hingga ngawur kesana-kemari. Semenjak memakai putih abu-abu, kurasakan banyak perubahan yang mendalam. Mulai dari tulisan hingga memaknai setiap kejadian yang secara spontan aku tuangkan kedalam barisan kalimat. Mereka tak sadar, padahal mereka sudah tertipu dengan apa yang sebenarnya aku tulis. Menurut sebagian orang, tulisanku egois. Tapi memang itulah penulis, penulis itu egois, penulis bisa saja membeberkan kata yang kadang salah bahkan sulit dipahami oleh sebagian kalangan. Maka dari itu, berhati-hatilah kalian dalam memaknai berbagai tulisan. 

Calypso.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar