Sajak ku berlari, berlari di tengah hangatnya embun pagi. Aurora manis di langit timur, lirihku. Aku ingin melihat lingkaran senyum bulan saat malam hari, ingin sekali, tapi sayang, yang kutemukan hanya seberkas bayangan bulan sisa tadi malam.
Aku ingin mencoba berlari walau hanya bersama bayanganmu, aku rindu saat kita memadukan sajak-sajak manis. Rindu karena saat ini, kita bukan seperti dulu lagi. Kita bukan lagi sepasang aurora indah yang sedang bermain di langit kutub. Aku ingin berontak, tapi bukan itu yang seharusnya aku lakukan, bahkan aku tak pantas untuk itu semua. Kita berbeda..
Di sudut yang lain, senja malah lebih memikat untukku. Aku bisa melihatnya kapan saja. Bahkan dia sangat hangat. Matahariku di ujung barat pulau ini.
Senja.. aku rindu. Aku rindu saat mendengar bisikkan tawamu. Kamu merayap di setiap detik. Menjelma menjadi apapun, siapapun, bagaimanapun aku mau. Aku juga bisa memanggilmu kapan saja. Sayang, balasannya tak bisa aku dapatkan. Tapi tak apa, aku sadar, aku memang tak boleh egois, aku tak bisa memaksa senja. Senja selalu menyukai siluetnya. Sekarang, esok, atau nanti. Bahkan, sampai tak ada tempat lagi...
Calypso.
Calypso.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar